Kenapa Masih Ada Pengendara Motor yang Terobos Lampu Merah?

Kompas.com - 05/08/2021, 11:22 WIB
Tampak tanda jarak fisik pengendara seperti starting Grid di Moto GP dibuat di ruang henti khusus (RHK) Jalan Merdeka, Kota Bandung, Kamis (16/7/2020). Polda Janar membuat tanda ini do 159 di 22 Kota/Kabupaten di wilayah Polda Jabar, sebagai salah satu upaya penerapan protokol kesehatan di Jalanan. KOMPAS.COM/AGIE PERMADITampak tanda jarak fisik pengendara seperti starting Grid di Moto GP dibuat di ruang henti khusus (RHK) Jalan Merdeka, Kota Bandung, Kamis (16/7/2020). Polda Janar membuat tanda ini do 159 di 22 Kota/Kabupaten di wilayah Polda Jabar, sebagai salah satu upaya penerapan protokol kesehatan di Jalanan.

JAKARTA, KOMPAS.com – Persimpangan merupakan lokasi bertemunya banyak kendaraan dari berbagai jalur. Biasanya untuk mengatur arus lalu lintas di persimpangan, tersedia lampu lalu lintas yang ada di setiap sisi.

Namun, aksi pengendara motor yang menerobos lampu merah masih saja terjadi. Mereka bahkan menerobos bukan karena tanggung, melainkan memang berniat melanggar lampu merah, biasanya dengan alibi lantaran ingin cepat sampai.

Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia Sony Susmana mengatakan, melanggar lampu merah sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan pengendara. Bermula dari satu orang yang melanggar, karena tidak ditindak, keesokan harinya akan terus bertambah.

Baca juga: Ini Daftar Harga Rocky, Xenia, Terios, Luxio, dan Grandmax per Agustus 2021

 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Dashcam Indonesia (@dashcamindonesia)

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut Sony, ada dua faktor yang membuat aksi meneorbos lampu merah ini masih marak dilakukan. Pertama adalah perilaku pengendara yang minim pemahamannya akan keselamatan dan tidak disiplin pada peraturan.

“Mereka ini golongan pengendara yang tingkat pendidikannya rendah,” kata Sony kepada Kompas.com, Rabu (4/8/2021).

Baca juga: Harga MPV Murah di Bulan Terakhir Diskon PPnBM

Faktor kedua adalah karena mengikuti orang lain yang melanggar. Ketika melihat pelanggar lampu merah tetap baik-baik saja dan tidak ditilang, beberapa orang cenderung mengikuti pelanggaran tadi.

“Dilihat hal tersebut tidak berdampak buruk, maka keesokan hari dia akan mengikuti pelanggarannya. Mereka adalah golongan pengendara yang tingkat akal sehatnya rendah,” ucap Sony.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.