Quartararo Cerita Soal Tekanan Berat di Awal Karir

Kompas.com - 03/08/2021, 12:02 WIB
Fabio Quartararo di Sirkuit Assen TWITTER/@FABIOQ20Fabio Quartararo di Sirkuit Assen

PARIS, KOMPAS.com - Saat ini Fabio Quartararo berada di puncak klasemen pebalap MotoGP dengan raihan 156 poin. Dia merupakan salah satu colon kuat peraih gelar juara dunia musim 2021.

Dalam wawancara eksklusif dengan The Race, Quartararo mengatakan di masa lalu dia mengalami beberapa momen yang sangat sulit. Termasuk tekanan sebagai pebalap motor.

Saat masih bertarung di kejuaraan CEV Repsol, Quartararo sudah digadang bakal jadi bintang. Bahkan saat naik ke Moto3 dia dijuluki sebagai The Next Marc Marquez.

Baca juga: Aprilia Ungkap Tampang Tuareg 660, Penantang Tenere 700

Fabio Quartararo saat sesi latihan pada MotoGP Jerman 2021. (Photo by Ronny Hartmann / AFP)RONNY HARTMANN Fabio Quartararo saat sesi latihan pada MotoGP Jerman 2021. (Photo by Ronny Hartmann / AFP)

Tapi nyatanya saat naik ke Moto3 pada 2015 bersama Honda Estrella Galicia 0,0, pebalap asal Perancis itu ternyata kesulitan. Dia mengakhiri musim dengan berada di posisi ke-10 klasemen.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Awalnya tampak seperti sebuah motivasi, tetapi begitu Anda melakukan kesalahan Anda merasakan banyak tekanan. Kemudian saya salah sepanjang tahun 2015 dan pergantian tim agak merepotkan. Tapi saya membutuhkannya sebagai pengalaman," katanya mengutip Tuttomotoriweb.it, Senin (2/8/2021).

"Hasilnya buruk, saya tidak pernah memenangkan balapan Moto3, tetapi di CEV saya memenangkan sembilan dari sebelas. Ada yang salah denganku,” katanya.

Quartararo mengatakan bahwa saat itu mentalnya masih lemah. Terlebih kakinya saat itu pernah patah sehingga memperburuk penampilannya.

Baca juga: Ganti Cairan Radiator Sendiri, Ketinggian Air Boleh Sampai Penuh?

Fabio Quartararo saat berlaga di MotoGP Valencia. (Photo by LLUIS GENE / AFP)LLUIS GENE Fabio Quartararo saat berlaga di MotoGP Valencia. (Photo by LLUIS GENE / AFP)

“Apa yang salah, pertama-tama tekanan yang saya miliki, tetapi juga perubahan tim Leopard. Pada awalnya Honda, pada menit terakhir adalah KTM," katanya.

"Saya tidak senang dengan orang yang menjaga karir saya, dan kemudian kaki saya patah. Ketika saya berusia 15, 16 dan 17 tahun mental saya tidak sekuat sekarang,” kata Quartararo.

“Saya butuh waktu lama untuk kembali. Bahkan ketika saya jatuh, saya butuh waktu lama untuk kembali ke ritme saya. Sekarang jika saya jatuh saya segera bangun dan ini penting bagi seorang pebalap,” katanya.

Saat di Moto2 bersama tim Speed Up Quartararo mulai menemukan lagi ritmenya. Dia kembali meraih kemenangan kemudian dipanggil Petronas SRT yang akan mengubah karirnya.

Baca juga: Catat, Pengendara Motor Ini Tak Wajib Naik Golongan SIM

Marc Marquez dan Fabio Quartararo Marc Marquez dan Fabio Quartararo

“Dan kemudian saya akan selalu mengingat Eric (Mahe, manajer Quartararo) yang memberi tahu saya dalam perjalanan pulang dari Assen bahwa ada kesempatan untuk pergi bersama Petronas," katanya.

"Saya bertanya kepadanya apakah maksudnya Moto2, dan ketika dia berkata "tidak, MotoGP", saya merasa seperti orang gila. Sepuluh hari berlalu dari Assen ke Sachenring, tapi rasanya seperti setahun!,” katanya.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.