Hitung Potensi Industri Baterai Kendaraan Listrik bagi PDB Indonesia

Kompas.com - 22/05/2021, 07:02 WIB
Ilustrasi baterai untuk mobil elektrifikasi SHUTTERSTOCK/ROMAN ZAIETSIlustrasi baterai untuk mobil elektrifikasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah RI melalui Indonesia Battery Corporation (IBC) menegaskan bahwa pengembangan industri baterai kendaraan listrik nasional penting untuk meningkatkan nilai tambah produk tambang.

Bahkan khusus produk nikel, pertambahan dimaksud bisa mencapai dua kali lipat lebih dari keadaan terkini yaitu 3,6 miliar dollar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 51,5 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB).

Lebih lanjut, pengembangan nikel menjadi katoda bisa mencapai sekitar 5,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 81,5 triliun per tahun. Demikian sebagaimana dikatakan oleh Komisaris Utama Mind ID Agus Tjahajana.

Baca juga: Pemerintah Kaji Konversi Sepeda Motor Listrik, Termasuk Biayanya

DDH mama mengelola sistem cas baterai memanfaatkan panel surya, kemudian juga mamou menyalurkan kembali dari baterai kendaraan PHEV ke kebutuhan rumah tangga;KOMPAS.com/Agung Kurniawan DDH mama mengelola sistem cas baterai memanfaatkan panel surya, kemudian juga mamou menyalurkan kembali dari baterai kendaraan PHEV ke kebutuhan rumah tangga;

"Apalagi bila nikel bisa dikembangkan sampai menjadi battery pack, jadi nilai kontribusinya terhadap PDB bisa sampai 16,4 miliar dollar AS atau Rp 234,5 triliun per tahun," katanya di diskusi virtual, Kamis (20/5/2021).

"Belum lagi multipiler effect-nya yang besar seperti penyerapan tenaga kerja," kata Agus, menambahkan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Apabila industri baterai kendaraan listrik sudah mulai beroperasi di Indonesia, Agus mengharapkan adanya keterlibatan dari para pelaku tambang swasta sebagai pemasok

Sahingga, nantinya kontribusi terhadap PDB dari penambangan nikel saja diharapkan dapat terus meningkat di dalam ekosistem industri baterai kendaraan listrik.

"Jadi Insya Allah kalau di swasta maupun BUMN jadi, diproduksi upstream paling tidak di hulu saja tercapai 10 miliar dollar AS," ucap Agus.

Baca juga: Kemenhub Susun Peta Jalan untuk Percepatan Kendaraan Listrik Nasional

Sasis, baterai, motor listrik pada mobil listrik murni (BEV) Toyota, Lexus UX 300e.Toyota Sasis, baterai, motor listrik pada mobil listrik murni (BEV) Toyota, Lexus UX 300e.

Dalam kesempatan terpisah, melalui pembentukan IBC ia juga menyebut bahwa akan melakukan berbagai strategi pengembangan industri baterai kendaraan listrik dari hulu ke hilir.

Untuk hulu, akan dibuat sekitar 195 gigawatt/jam dengan sekitar 150.000 nikel per tahun dalam dua tahap. Pertama, baterai berkapasitas 30 GW per jam yang akan direalisasikan pada 2026-2030.

"Setelah itu kapasitasnya ditingkatkan menjadi 140 GW per hour. Nanti sisanya diekspor dalam bentuk cell, investasinya 13 miliar dollar AS," ujar dia.

??"Nah, kalau bisa sampai 140 GW per hour atau 70 persen dari 195 GW per hour itu hampir mencapai 17 miliar dollar AS, tentu investasi bersama," ucap Agus.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X