Tantangan PO Tertua Di Indonesia, Mulai Krisis Moneter, Lawan Pesawat dan Pandemi

Kompas.com - 05/04/2021, 17:12 WIB
Kurnia Lesani Adnan bersama PO NPM DOK. PERPALZ TVKurnia Lesani Adnan bersama PO NPM

JAKARTA, KOMPAS.com – Masa Pandemi Covid-19 memang masih berlangsung di Indonesia sampai sekarang. Salah satu sektor yang paling terdampak adalah transportasi darat, misalnya bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP).

Perusahaan Otobus (PO) tertua di Indonesia, PT Naikilah Perusahaan Minang (NPM) sudah berjalan sebelum kemerdekaan, tepatnya tahun 1937. Berbagai cerita dan tantangan pun dialami oleh PO asal Padang Panjang Sumatera Barat ini.

Direktur Utama PT NPM Angga Vircansa Chairul yang merupakan generasi ketiga mengatakan, PO NPM melayani AKDP (Antar Kota Dalam Propinsi), AKAP dan Pariwisata. Saat ini rute perjalanan yang dilayani adalah Sumatra Barat menuju beberapa kota di Sumatra dan Jawa.

Baca juga: Kesal KIR Diambil Dishub, Sopir Truk Blokade Jalan

Bus AKAP PO NPMDOK. PERPALZ TV Bus AKAP PO NPM

Karena sudah beroperasi lebih dari 80 tahun, berbagai tantangan pun ditemui PO NPM. Mulai dari krisis moneter, persaingan dengan pesawat dan sekarang terdampak pandemi Covid-19.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Sebagai PO bus tertua, kami telah menjalani masa pasang surut, mulai dari krisis moneter di tahun 1998 hingga awal tahun 2000-an yang turut memukul bisnis transportasi, selanjutnya maraknya transportasi udara dan kini adanya pandemi Covid-19. Kami ditantang untuk terus berinovasi untuk bisa bertahan dan bertumbuh di industri transportasi darat,” ucap Angga dalam siaran resmi yang Kompas.com terima, Senin (5/4/2021).

Angga menceritakan PO NPM meraih masa kejayaannya pada tahun 90-an dengan rute Padang – Bukittinggi. Pada era itu NPM dapat memberangkatkan 40 bus setiap hari dengan 7 jadwal keberangkatan.

Baca juga: Hasil MotoGP Doha 2021: Quartararo Juara, Rusak Pesta Ducati

Namun masa kejayaan PO NPM pun dirasakan kandas ketika krisis moneter melanda Indonesia yang juga berimbas pada bisnis transportasi di tahun 1998 hingga awal tahun 2000-an. PO NPM pernah memiliki bus hingga 101 unit. Karena krisi moneter, tersisa menjadi 40-an unit saja karena banyak yang dijual demi menutup biaya operasional.

Selain krisis moneter, hal lain yang memengaruhi surutnya bisnis transportasi darat adalah dengan adanya transportasi udara yang memiliki banyak rute di beberapa kota. Banyaknya pilihan penerbangan yang ekonomis menjadi lawan berat bus AKAP.

Direktur Utama PO NPMDOK. PERPALZ TV Direktur Utama PO NPM

“Masyarakat lebih banyak beralih ke moda transportasi udara sehingga menyebabkan bisnis moda transportasi darat menurun jumlah peminatnya. Bahkan dalam setahun terakhir ini, terpaan dari pandemi Covid-19 juga turut menjadi tantangan terbesar PO bus,“ kata Angga.

Pada awal Angga memegang perusahaan NPM, jumlah unit yang beroperasi tersisa hanya 27 unit dan sampai saat ini sudah mulai berkembang kembali sehingga jumlah unit yang beroperasi ada sekitar 57 unit, melayani Padang – Jakarta, Padang – Medan, Padang – Jambi dan Pariwisata.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.