Penyebab Utama Tabrakan dari Belakang

Kompas.com - 24/12/2020, 17:41 WIB
Mobil yang ditumpangi ajudan Kapolda Jatim terlibat kecelakaan di Tol Mojokerto-Kertosono, Jumat (10/7/2020). istimewaMobil yang ditumpangi ajudan Kapolda Jatim terlibat kecelakaan di Tol Mojokerto-Kertosono, Jumat (10/7/2020).

JAKARTA, KOMPAS.comMengemudi di jalan tol memang bisa memotong waktu perjalanan. Jalannya yang lurus serta luas, kadang dimanfaatkan penggemar kecepatan menguji kemampuan dari kendaraannya.

Namun ada bahaya yang mengintai jika sudah bermain dengan kecepatan yang tinggi di jalan tol. Tidak sedikit terjadi kecelakaan mobil yang menabrak bagian belakang truk atau kehilangan kendali karena kaget ada mobil yang lebih lambat di depannya.

Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia, Sony Susmana mengatakan, selain kecepatan, ada empat faktor yang menyebabkan hilangnya persepsi jarak saat mengemudi di jalan tol.

Baca juga: Bebek Moge, Honda Super Cub Dijejali Mesin 250 cc 4-silinder

Kecelakaan terjadi di Jalan Tol Batang-Semarang, Minggu (3/3/2019) menewaskan satu orang dan dua lainnya luka-lukaDok. PT Jasamarga Semarang Batang (PT JSB) Kecelakaan terjadi di Jalan Tol Batang-Semarang, Minggu (3/3/2019) menewaskan satu orang dan dua lainnya luka-luka

Hilangnya persepsi jarak pengemudi di jalan tol itu ketika sedang mengemudi dalam kecepatan tinggi, ada kendaraan lain di depannya yang terlihat masih jauh, namun ternyata sudah di depan mata. Sehingga tabrakan tidak bisa dihindari.

“Faktor pertama mengantuk, bukaan mata pengemudi hanya sedikit sebagian hidupnya sudah di bawah alam sadar,” ucap Sony kepada Kompas.com, Kamis (24/12/2020).

Kemudian faktor yang kedua yaitu mengebut atau melakukan zig-zag di jalan tol. Sony mengatakan, gaya mengemudi yang reaktif sangat berpotensi kecelakaan karena kecepatannya yang tinggi.

Baca juga: PO SAN Tambah 8 Bus Baru dengan Sasis Tronton Scania

“Ketika melakukan zig-zag atau berpindah lajur, selalu tipis jaraknya dengan kendaraan lain, enggak ada ruang aman saat mengemudi,” kata Sony.

Ketiga, pengemudi selalu berpikir bisa dan tidak berpikir aman, sehingga tindakannya mengarah berbahaya. Keempat karena masalah visibilitas yang terbatas, misalnya blind spot karena kontur jalan, sudut tikungan, kabut atau silau dari matahari.

“Terakhir yaitu pengemudi tidak fokus, ada hal lain yang dikerjakan sambil nyetir atau ada masalah yang dibawa saat mengemudi,” ucapnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X