Siswa SMP dan SMA Belum Cukup Umur untuk Bikin SIM

Kompas.com - 24/11/2020, 08:12 WIB
Mulai Maret lalu, siswa bermotor di SMAN 19, Bandung, diizikan masuk gerbang sekolah bila mereka  memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) dan memberi tumpangan pada seorang temannya. DOK. TMMINMulai Maret lalu, siswa bermotor di SMAN 19, Bandung, diizikan masuk gerbang sekolah bila mereka memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) dan memberi tumpangan pada seorang temannya.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melarangan siswa SMP dan SMA tidak boleh menggunakan sepeda motor, saat berkegiatan karena tak memenuhi batas usia berkendara.

Sebab dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) disebutkan, setiap pengendara kendaraan harus memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).

Sementara salah satu syarat memiliki dokumen tersebut ialah cukup umur, yakni berusia minimal 17 tahun. Adapun anak-anak sekolah rata-rata belum mencapainya.

Baca juga: Polisi Ungkap Alasan Mengapa Ganjil Genap di Jakarta Belum Berlaku

Ilustrasi siswa bermotor.Tribun Jogja Ilustrasi siswa bermotor.

"Jadi kita ingin mendorong kembali aturan dimaksud untuk dilaksanakan khususnya di lingkungan sekolah. Kemudian juga mendorong penggunaan sepeda," ucap Direktur Sarana Transportasi Jalan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Pandu Yunianto kepada Kompas.com, Senin (23/11/2020).

Lantas, kenapa baru di umur tersebut pemilik kendaraan baru boleh mendapatkan SIM?

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pada kesempatan terpisah, Direktur Keamanan dan Keselamatan (Dirkamsel) Korlantas Polri Brigjen Chrysnanda Dwilaksana menyatakan pada usia 17 tahun seseorang sudah dianggap dewasa karena sudah cukup berkembang baik secara fisik, perilaku, dan mental.

"Pemilik SIM harus memiliki kesadaran, kepekaan, kepedulian akan keselamatan berlalu lintas untuk dirinya maupun orang lain. Tidak hanya tahu teori atau bisa bawa kendaraan saja," katanya saat dihubungi belum lama ini.

Hal senada diungkapkan Training Direction The Real Driving Center (RDC) Marcell Kurniawan. Di samping itu, pengendara usia 17-20 tahun juga merupakan yang paling rentan mengalami kecelakaan maut.

Baca juga: Korlantas Polri Soroti Pentingnya Bangun Budaya Tertib Berlalu Lintas

Ilustrasi kecelakaanAUTOACCIDENT Ilustrasi kecelakaan

"Mereka sudah dianggap mampu fokus, mengambil keputusan yang tepat, dan mampu melakukan berbagai tindakan antisipatif di jalan. Jadi tidak hanya soal bisa atau tidak mengendarai kendaraan," ucapnya.

“Hal tersebut bisa terjadi karena, kebanyakan pengemudi di Indonesiayang kurang edukasi. Tidak sedikit dari mereka yang mendapatkan kompetensi mengemudinya secara otodidak, atau tidak melalui kursus mengemudi,” kata Marcell.

Chrysnanda melanjutkan, lalu lintas merupakan urat nadi kehidupan. Ini seiring dengan hubungan antara pengendara dengan pengguna jalan lainnya yang membuka berbagai kemungkinan ketika di jalan, termasuk jadi korban atau pelaku yang merusak atau menghambat produktifitas.

Maka dari itu untuk menjamin lalu lintas yang aman selamat tertib dan lancar diperlukan suatu regulasi dan uji berkala sebagai bentuk kontrol. SIM selain sebagai legitimasi kompetensi juga untuk fungsi pengaturan dan penegakkan hukum.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X