Masalah ODOL, Truk yang Sama Bisa Punya Bobot yang Beda

Kompas.com - 10/11/2020, 17:01 WIB
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (paling kanan, baju putih memakai topi) saat meninjau uji coba bersama dengan PT Jasa Marga, Ditjen Hubdat dan Kepolisian di jembatan timbang Weigh-In-Motion (WIM) di Jalan Tol Jakarta-Cikampek KM 9 pada Minggu (22/9/2019) DOKUMENTASI KEMENHUBMenteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (paling kanan, baju putih memakai topi) saat meninjau uji coba bersama dengan PT Jasa Marga, Ditjen Hubdat dan Kepolisian di jembatan timbang Weigh-In-Motion (WIM) di Jalan Tol Jakarta-Cikampek KM 9 pada Minggu (22/9/2019)

JAKARTA, KOMPAS.comKendaraan niaga seperti truk dibuat untuk mengangkut barang yang ada di bak belakangnya. Selain itu, sudah ditimbang juga berapa berat beban yang bisa diangkut dari truk tersebut.

Jumlah Berat yang Diizinkan ( JBI) adalah berat maksimum kendaraan bermotor berikut muatannya yang diizinkan berdasarkan kelas jalan yang dilalui. Jika truk ditimbang dan melebihi JBI, maka termasuk kategori over loading atau kelebihan muatan.

Namun kadang terjadi pada dua kendaraan yang sama, JBI nya berbeda. Padahal secara teknis seharusnya sasis truk pada awalnya memiliki berat kendaraan yang sama. Lalu mengapa bisa ada perbedaan ini?

Baca juga: Deretan MPV Bekas Rp 50 Jutaan, Bisa Dapat Odyssey dan Avanza

Truk saat melewati jembatan timbangKOMPAS.com/ACHMAD FAUZI Truk saat melewati jembatan timbang

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo), Gemilang Tarigan mengatakan, jika JBI 10 ton, berat kendaraan 5 ton dan daya angkutnya 5 ton. Namun ada kejadian berat kendaraannya malah 6 ton, jadi daya angkutnya dikurangi, menyesuaikan JBI.

“Jadi standar daripada karoseri ini enggak sama. Jadi hal-hal begini bikin pusing, kita kan enggak pernah timbang sebelum membeli kendaraannya,” ucap Gemilang kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.

Di sisi lain, Gemilang mengungkapkan ada juga kesalahan dari sistem yang membuat hasil timbangannya yang berbeda. Salah satunya disebabkan dari tukang timbangnya yang sebagian kurang kompeten.

Baca juga: Tol Cimanggis-Cibitung Siap Beroperasi Besok, Tarif Masih Gratis

“Keahlian tukang timbangnya juga tidak merata. Bahkan di daerah-daerah tertentu ada yang tukang timbangnya berasal dari dinas pemakaman, kan enggak nyambung,” kata Gemilang.

Ketiga, ada juga masalah mental orang Indonesia yang sebagian masih bisa menerima suap. Gemilang menyarankan untuk membuat sistem yang digital, agar tidak ada tawar menawar antara pemilik truk dengan orang yang bekerja di timbangan.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X