Kompas.com - 17/09/2020, 10:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Honda CG110 memang tidak sepopuler saudaranya CB100. Meski demikian motor jadul CG110 ini punya kelemahan dan keunggulan yang membuatnya memiliki ciri khas sendiri.

Tigor Qristovani, pemilik CG110 mengatakan, kelemahan pertama CG110 yaitu soal citra. Ketimbang CB100 motor ini dianggap sulit suku cadang karena mengusung mesin Over Head Valve (OHV).

Seperti diketahui saat motor ini masih eksis era 70-80'an penjualannya tidak selaris CB100. Karena itu stok suku cadang yang ada di pasar pastinya tidak sebanyak CB100 dan hal itu berimbas sampai sekarang.

Baca juga: Honda Monkey 125, Cafe Racer untuk Pajangan Toko

Honda CG110Foto: Istimewa Honda CG110

"Aslinya menurut saya tidak gitu. Sama saja seperti motor Jepang pada umumnya, mesinnya bandel. Sejauh ini buat mesin tua suku cadangnya masih banyak, mau dicari pasti ada di online, tidak langka sampai kaya motor Inggrisan," katanya kepada Kompas.com, Rabu (16/9/2020).

Selain suku cadang, keunggulan CB100 ketimbang CG110 kata Tigor soal subtitusi. Karena setelah CB-Series ada GL-Series, maka komponennya bisa tukar pakai dan di-upgrade antara satu sama yang lain.

"Citranya CB gampang dibuat kencang karena generasinya kan boleh dibilang lanjut sampai Tiger. Misalnya head atau jeroannya kan bisa dipake dari GL sampai Tiger," katanya.

"Kalau CG mentok di situ doang, paling nantinya main bore up. Buat bore up pun sebetulnya juga sudah ada yang jual paketannya orang Bandung atau Surabaya, yang jual head bore up," kata Tigor.

Honda CG110Foto: Istimewa Honda CG110

Selain itu subtitusi juga soal akselerasi. Tigor mengakui CG110 memang tidak seresponsif CB100. Karena itu motor ini kurang cocok buat mereka yang mencari motor kencang.

"Kalau sama-sama kosongan (benar-benar standar) CB100 saya memang belom pernah cobain. Tapi kalau mau main CG110 mendingan main orian saja. Kalau mau main kencang tidak ngejar," katanya.

"Kalau main CG110 mending main standaran atau main cantik. Kalau mau main performa bukan CG soalnya teknologinya ketinggalan, subtitusinya susah. Kecuali kita tinggal di India dan atau Eropa sih masih enak," katanya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.