[POPULER OTOMOTIF] Tarif Ojek Online Naik | Harga Yamaha Nmax Naik

Kompas.com - 12/03/2020, 06:02 WIB
Pengemudi ojek online dengan penumpangnya berada di Kawasan Stasiun Sudirman, Jakarat Pusat, Rabu (11/3/2020). Kementerian Perhubungan (Kemenhub) resmi menaikan tarif ojek online untuk zona 2 atau wilayah Jabodetabek pada 16 Maret 2020. Kemenhub memutuskan untuk menaikan tarif batas bawah (TBB) ojol sebesar Rp 250 per kilometer (km) menjadi Rp 2.250 per km, dari sebelumnya Rp 2.000 per km. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPengemudi ojek online dengan penumpangnya berada di Kawasan Stasiun Sudirman, Jakarat Pusat, Rabu (11/3/2020). Kementerian Perhubungan (Kemenhub) resmi menaikan tarif ojek online untuk zona 2 atau wilayah Jabodetabek pada 16 Maret 2020. Kemenhub memutuskan untuk menaikan tarif batas bawah (TBB) ojol sebesar Rp 250 per kilometer (km) menjadi Rp 2.250 per km, dari sebelumnya Rp 2.000 per km.

JAKARTA, KOMPAS.com - Mulai 16 Maret 2020, Kementerian Perhubungan ( Kemenhub) memberlakukan tarif baru untuk ojek online ( ojol) khusus Zona II atau wilayah Jabodetabek.

Adapun kenaikan tarif batas bawah (TBB) sebesar Rp 250 per kilometer (km), dari semula Rp 2.000 menjadi Rp 2.250 per kilometer (km).

Sedangkan untuk tarif batas atas (TBA) menjadi Rp 2.650 per km, atau naik sebesar Rp 150, dari semula Rp 2.500.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiadi mengatakan, kenaikan tarif ini telah disepakati termasuk oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

Selain itu, informasi yang tidak kalah pentingnya lagi soal Yamaha resmi menaikkan harga Nmax model 2020. Penasaran seperti apa, berikut ini lima berita terpopuler di kanal otomotif pada Rabu 11 Maret 2020:

1. Kemenhub Kerek Tarif Ojek Online, Begini Respons Gojek dan Grab

Pengemudi ojek online melintas di Jalan Mangga Dua Raya, Jakarat Pusat, Rabu (11/3/2020). Kementerian Perhubungan (Kemenhub) resmi menaikan tarif ojek online untuk zona 2 atau wilayah Jabodetabek pada 16 Maret 2020. Kemenhub memutuskan untuk menaikan tarif batas bawah (TBB) ojol sebesar Rp 250 per kilometer (km) menjadi Rp 2.250 per km, dari sebelumnya Rp 2.000 per km.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Pengemudi ojek online melintas di Jalan Mangga Dua Raya, Jakarat Pusat, Rabu (11/3/2020). Kementerian Perhubungan (Kemenhub) resmi menaikan tarif ojek online untuk zona 2 atau wilayah Jabodetabek pada 16 Maret 2020. Kemenhub memutuskan untuk menaikan tarif batas bawah (TBB) ojol sebesar Rp 250 per kilometer (km) menjadi Rp 2.250 per km, dari sebelumnya Rp 2.000 per km.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mulai 16 Maret 2020, Kementerian Perhubungan ( Kemenhub) memberlakukan tarif baru untuk ojek online ( ojol) khusus Zona II atau wilayah Jabodetabek.

Adapun kenaikan tarif batas bawah (TBB) sebesar Rp 250 per kilometer (km), dari semula Rp 2.000 menjadi Rp 2.250 per kilometer (km).

Sedangkan untuk tarif batas atas (TBA) menjadi Rp 2.650 per km, atau naik sebesar Rp 150, dari semula Rp 2.500.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiadi mengatakan, kenaikan tarif ini telah disepakati termasuk oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

Baca juga: Kemenhub Kerek Tarif Ojek Online, Begini Respons Gojek dan Grab

2. Pasaran Harga Suzuki Satria 2-tak Termurah, Masih Ada Rp 2 Jutaan

Suzuki Satria 2-takAndi Panser/Blue Tech Suzuki Satria 2-tak

Perjalanan Suzuki Satria sudah dimulai sejak era 2-tak. Tak sedikit yang mengidolakan motor bebek underbone tersebut. Bahkan, masih banyak yang mencari motor bekas Satria 2-tak.

Satria 2-tak di Indonesia terkenal dengan dua model, yakni Satria 120R dan Satria 120 LSCM. Satria 120R biasa dijuluki "Satria Lumba-lumba", sedangkan Satria 120 LSCM biasa disebut dengan " Satria Hiu".

Andi Panser, dari bengkel Blue Tech di Kendal, Jawa Tengah, yang biasa merestorasi Satria 2-tak, mengatakan, masih ada yang menjual Satria Lumba-lumba atau Satria Hiu. Meskipun, dengan kondisi seadanya atau "bahan".

Baca juga: Pasaran Harga Suzuki Satria 2-tak Termurah, Masih Ada Rp 2 Jutaan

3. Harga All New Nmax Naik, Ini Alasan Yamaha

Yamaha NMAX 155 Connected/ABSKompas.com/Donny Yamaha NMAX 155 Connected/ABS

PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) melakukan penyesuaian harga untuk Nmax model 2020 versi standar per Maret 2020. Kini, harga sepeda motor itu lebih mahal Rp 250.000.

Berdasarkan situs resmi Yamaha Indonesia, produk yang baru ditawarkan pada Desember 2019 ini dibanderol Rp 29.750.000 on the road DKI Jakarta. Sebelumnya, motor tersebut dipasarkan dengan harga Rp 29,5 juta.

"Terkait kenaikan harga itu, dipicu oleh berbagai hal. Salah satunya adalah BBN-KB, kebijakan pemerintah daerah, dan banyak lagi. Jadi bukan hanya dari sisi Yamaha saja," kata GM After Sales and Motorsport PT YIMM M.Abidin di Jakarta, Selasa (10/3/2020).

Baca juga: Harga All New Nmax Naik, Ini Alasan Yamaha

4. Satria 2-tak Termahal, Tembus Rp 45 Juta

Suzuki Satria 2-takAndi Panser/Blue Tech Suzuki Satria 2-tak

Harga motor lawas, meskipun bekas, sulit ditebak. Tergantung dengan bagaimana kondisinya, apakah terawat atau tidak. Semakin terawat, tentu semakin tinggi harganya.

Namun, perawatan biasanya dilakukan pada motor yang kondisinya masih relatif bagus. Untuk motor yang kondisinya jauh dari kata sempurna, solusinya adalah restorasi.

Tren restorasi juga banyak dilakukan pada motor bebek alias underbone legendaris, seperti Suzuki Satria 2-tak. Motor lawas ini ada beberapa model, antara lain Satria 120S, Satria 120R (Satria Lumba-lumba), dan Satria 120 LSCM (Satria Hiu).

Baca juga: Satria 2-tak Termahal, Tembus Rp 45 Juta

5. Mengapa Ada Bus yang Tanpa Pintu di Sisi Sopir?

Staf Ahli Menteri Perhubungan Bidang Logistik dan Multimoda Kemenhub, Cris Kuntadi melepas secara simbolis operasional perdana bus AKAP Tol Trans Jawa yang mengangkut pemudik ke Surabaya, Provinsi Jawa Timur, Senin (27/5/2019). KOMPAS.com/MURTI ALI LINGGA Staf Ahli Menteri Perhubungan Bidang Logistik dan Multimoda Kemenhub, Cris Kuntadi melepas secara simbolis operasional perdana bus AKAP Tol Trans Jawa yang mengangkut pemudik ke Surabaya, Provinsi Jawa Timur, Senin (27/5/2019).

Bagi yang Anda yang jarang naik bus antar kota, jangan kaget kalau pada bagian kanan (sopir), tidak ada pintu untuk si pengemudi. Jadi, sopir harus masuk dari pintu lain di sebelah kiri depan bodi, sama seperti penumpang lainnya.

Ternyata, mengapa pada sisi sopir tidak dilengkapi pintu ada alasannya. Jadi sudah ada imbauan dari Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (Dirjen Hubdat) sejak 2007.

Isi surat imbauan tersebut, yaitu:
1. Dalam rangka meningkatkan bentuk tanggung jawab pengemudi bus dalam mengemudikan kendaraannya sehingga dapat meningkatkan keselamatan dan keamanan penumpang, dengan ini kami sampaikan hal-hal sebagai berikut :

a. Dalam konstruksi rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor dengan peruntukan sebagai mobil bus, pintu keluar bagi pengemudi ditiadakan dan keberadaan tempat keluar darurat (pintu dan/atau jendela) harus dimaksimalkan.

Baca juga: Mengapa Ada Bus yang Tanpa Pintu di Sisi Sopir?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.