Tersedia Hampir di Seluruh SPBU, Ini Plus Minus Biodiesel B30

Kompas.com - 14/01/2020, 18:06 WIB
Petugas menunjukkan sampel bahan bakar B30 saat peluncuran uji jalan Penggunaan Bahan Bakar B30 untuk kendaraan bermesin diesel di halaman Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (13/6/2019). Uji jalan kendaraan berbahan bakar campuran biodiesel 30 persen pada bahan bakar solar atau B30 dengan menempuh jarak 40 ribu dan 50 ribu kilometer tersebut bertujuan untuk mempromosikan kepada masyarakat bahwa penggunaan bahan bakar itu tidak akan meyebabkan performa dan akselerasi kendaraan turun. Aprillio AkbarPetugas menunjukkan sampel bahan bakar B30 saat peluncuran uji jalan Penggunaan Bahan Bakar B30 untuk kendaraan bermesin diesel di halaman Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (13/6/2019). Uji jalan kendaraan berbahan bakar campuran biodiesel 30 persen pada bahan bakar solar atau B30 dengan menempuh jarak 40 ribu dan 50 ribu kilometer tersebut bertujuan untuk mempromosikan kepada masyarakat bahwa penggunaan bahan bakar itu tidak akan meyebabkan performa dan akselerasi kendaraan turun.
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Presiden RI Joko Widodo pada akhir 2019 lalu telah meresmikan program Biodiesel 30 Persen atau B30. Solar B30 disebut sudah bisa dibeli konsumen hampir di seluruh SPBU Pertamina yang ada di Indonesia.

“Titik blending kami sudah cukup banyak, dari 28 titik blending yang menyebar di seluruh Indonesia akan disalurkan ke SPBU milik Pertamina di seluruh Indonesia,” ujar VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fajriyah Usman, belum lama ini.

Untuk diketahui, jenis bahan bakar diesel yang menerapkan kandungan 30 persen Fatty, Acit, Metil, Eter (FAME) yang didapat dari minyak sawit hanya ada pada Biosolar saja. Sementara pada Dexlite atau Pertamina DEX tidak menggunakan kandungan tersebut.

Baca juga: Solar B20 Disebut Tak Ramah Lingkungan, Ini Kata Jokowi

SPBU PertaminaKOMPAS.com/istimewa SPBU Pertamina

“Hanya pada Biosolar saja, manfaat dari B30 ini juga meningkatkan performa mesin. FAME yang bersifat detergency mampu membersihkan mesin kendaraan maupun industri,” ucap Fajriyah.

Sementara itu, Ahli Konversi Energi dari Fakultas Teknik dan Dirgantara Intitut Teknologi Bandung Tri Yuswidjajanto Zaenuri, mengatakan bahwa campuran solar dengan minyak sawit yang diproses secara biodiesel dapat meningkatkan cetane number.

“Ini yang membuat performa mesin lebih baik lagi, selain itu hasil pembakarannya juga menghasilkan lebih sedikit CO (karbon monoksida). Hasilnya emisi juga lebih rendah,” katanya kepada Kompas.com (13/1/2020).

Baca juga: Benarkah Biosolar B20 Tak Ramah Lingkungan?

Ilustrasi Mesin Diesel.KompasOtomotif-donny apriliananda Ilustrasi Mesin Diesel.

Meski begitu, menurut Yus, campuran biosolar juga memiliki kekurangan. Salah satunya dapat memperpendek usia filter solar dan membeku saat terpapar udara dingin.

“Masalah pada filter dapat diakali dengan menggantinya lebih cepat. Untuk yang membeku, karena masih bersifat lemak jenuh, otomatis temperatur rendah dia membeku. Contohnya seperti minyak kelapa yang ada di mall, warnanya menjadi putih karena ada di ruangan ber-AC,” ucapnya.

Hal ini membuat mobil-mobil bermesin diesel bakal susah distarter, terutama saat pagi atau malam hari di daerah yang bersuhu rendah. Misal kawasan Freeport di Papua, atau sejumlah dataran tinggi di Jawa dan Sumatera.

“Normalnya memang seperti itu, kalau temperatur rendah beku. Tapi cepat cairnya, tunggu matahari sebentar sudah cair,” ujar Yus.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X