Ancaman Industri Otomotif Indonesia dari Vietnam

Kompas.com - 21/10/2019, 07:02 WIB
Ekspor mobil TMMINEkspor mobil

JAKARTA, KOMPAS.com - Neraca perdagangan antara Indonesia dengan Vietnam tiga tahun belakangan (2016 - 2018) mengalami pertumbuhan. Berdasarkan data International Monetary Fund, pertumbuhannya lebih dari 66 persen dengan nilai surplus 1,3 juta dolar US.

Kendati demikian, Vietnam merasa belum puas karena dibandingkan Indonesia, pertumbuhannya belum begitu besar. Pada periode tersebut, ekspor Indonesia naik sampai 35,1 persen sedangkan Vietnam hanya 23,4 persen.

Kondisi ini membuat Vietnam terus lakukan evaluasi hingga pada akhirnya, muncul kebijakan non tarif di 2018, yaitu regulasi Decree No. 116/2017/ND-CP (Decree on Requirements for Manufacturing, Assembly and Import Of Motor Vehicles and Trade in Motor Vehicle Warranty and Maintenance Services).

Baca juga: Vietnam Ingin Batasi Impor Mobil, Begini Sikap Gaikindo

Mobil-mobil produksi PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia diparkir di dermaga Car Terminal,  Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (10/6/2015). Mobil-mobil ini akan diekspor ke sejumlah negara, antara lain di Timur Tengah.KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES Mobil-mobil produksi PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia diparkir di dermaga Car Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (10/6/2015). Mobil-mobil ini akan diekspor ke sejumlah negara, antara lain di Timur Tengah.

Tidak sampai di sana, Vietnam juga berencana menerapkan pajak konsumsi spesial (special consumption tax/SCT) dalam waktu dekat supaya setiap barang yang diekspor memiliki harga lebih tinggi dibandingkan produk dalam negerinya.

Imbas diterapkannya aturan No.116, ekspor otomotif Indonesia turun sebesar 8 persen dari 294 juta dolar US menjadi 270 juta dolar US.

"Sejak adanya pembebasan tarif, Vietnam kalah bersaing tak terkecuali untuk bahan baku dan otomotif. Sehingga, mereka berupaya membatasi ekspor dan merangsang industri untuk mulai investasi (bangun pabrik) di sana," ujar Duta Besar Indonesia untuk Vietnam Ibnu Hadi di Jakarta, belum lama ini.

Baca juga: Kadin Menyayangkan Langkah Mitsubishi Produksi Xpander di Vietnam

Mitsubishi Xpander diekspor ke Filipina, Rabu (25/4/2018).FEBRI ARDANI/KOMPAS.com Mitsubishi Xpander diekspor ke Filipina, Rabu (25/4/2018).

Upaya pelepasan ketergantungan pada Indonesia dan Thailand sebagai eksportir utama khususnya di industri otomotif ini, menurut Ibnu, patut dikawal. Sebab, potensi terpangkasnya ekspor sangat besar.

Sebagaimana diketahui, ekspor kendaraan merupakan salah satu komoditas utama Indonesia ke Vietnam setelah batu bara dan minyak.

"Inilah yang jadi salah satu faktor mengapa Mitsubishi Motors Corporation berencana untuk membuat fasilitas perakitan Xpander di Vietnam. Mereka ingin menyiasati berbagai regulasi di Vietnam," katanya.

Ekspor perdana Mitsubishi Xpander, Kamis (25/4/2018), dilakukan ke Filipina.FEBRI ARDANI/KOMPAS.com Ekspor perdana Mitsubishi Xpander, Kamis (25/4/2018), dilakukan ke Filipina.

Ancaman Vietnam ini juga diperkuat dari berbagai aspek yang mulai dikokohkan agar jadi daya tarik tersendiri bagi para investor. Mulai dari waktu perijinan pendirian usaha, lahan yang diberikan cuma-cuma, sampai upah buruh di bawah rata-rata.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X