Vietnam Ingin Batasi Impor Mobil, Begini Sikap Gaikindo

Kompas.com - 08/10/2019, 07:22 WIB
Jalanan sebuah kota di Vietnam didominasi kendaraan impor. phnompenhpost.comJalanan sebuah kota di Vietnam didominasi kendaraan impor.

JAKARTA, KOMPAS.com - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia ( Gaikindo) sudah mulai melakukan dialog dengan pemerintah dan para produsen otomotif dalam negeri, sebagai langkah untuk menyikapi rencana pemberlakuan pajak konsumsi spesial (special consumption tax/SCT) di Vietnam.

Hambatan non tarif tersebut diyakini akan menimbulkan dampak terhadap ekspor mobil buatan Indonesia ke Vietnam. Mengingat, negara tersebut merupakan salah satu pasar penting bagi Indonesia.

"Rencana tersebut saat ini belum diberlakukan. Tapi sejauh ini yang kita lakukan adalah berdiskusi dengan pemerintah dan pelaku industri, untuk menjaga ekspor otomotif," ujar Sekretaris Jenderal Gaikindo Kukuh Kumara saat dihubungi Kompas.com, Jakarta, Senin (7/10/2019).

Baca juga: Kinerja Ekspor Mobil Indonesia Terancam di Vietnam

Ekspor mobilTMMIN Ekspor mobil

Dalam materinya, lanjut Kukuh, Gaikindo ingin tetap bisa mengekspor kendaraan entah secara utuh (completely built up/CBU) ataupun terurai (completely knocked down/CKD).

"Diakui, memang pasar Vietnam cukup menggoda untuk produsen otomotif membuat pabrik di sana. Tapi bagaimanapun juga, kita ingin ekspor tetap terjaga dan meningkat dan tetap sumbernya dari Indonesia," katanya.

Baca juga: Vietnam Jegal Lagi Impor CBU, Pemerintah Kembali Lobi

Petugas memeriksa mobil Toyota Fortuner produksi PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, yang akan diekspor melalui dermaga Car Terminal,  Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (10/6/2015). Mobil-mobil ini akan diekspor ke sejumlah negara, antara lain di Timur Tengah.KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES Petugas memeriksa mobil Toyota Fortuner produksi PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, yang akan diekspor melalui dermaga Car Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (10/6/2015). Mobil-mobil ini akan diekspor ke sejumlah negara, antara lain di Timur Tengah.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (ILMATAP) Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika mengatakan, pemerintah akan melakukan lobi kepada Vietnam terkait dampak pemberlakuan pajak konsumsi tersebut.

"Kita lihat dahulu (pengaruhnya) seperti apa. Kita akan lakukan diplomasi sebagai sesama anggota negara ASEAN. Dalam hal ini, WTO (Organisasi Perdagangan Dunia) tidak ikut campur karena yang diatur bukan tarif bea masuk," katanya beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, Tenaga Ahli Bidang Perjanjian Internasional Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI Rico Nugrahatama juga mengatakan, kebijakan Vietnam ini akan mempengaruhi langsung ekspor Indonesia, tapi dampaknya tidak bisa terlihat cepat.

Baca juga: Kadin Menyayangkan Langkah Mitsubishi Produksi Xpander di Vietnam

Ekspor perdana Mitsubishi Xpander, Kamis (25/4/2018), dilakukan ke Filipina.FEBRI ARDANI/KOMPAS.com Ekspor perdana Mitsubishi Xpander, Kamis (25/4/2018), dilakukan ke Filipina.

“Peraturan dalam negeri Vietnam secara langsung akan mempengaruhi, karena di ASEAN sendiri Vietnam masuk dalam tiga besar paling banyak, setelah Filipina dan Thailand,” katanya.

“Dampaknya biasanya akan ketahuan pada tahun depan, atau setelah triwulan ketiga itu bisa kelihatan seberapa besar efeknya,” ujarnya.

Sebagai informasi, pangsa pasar Vietnam mencapai 7,8 persen (586.514 dolar AS di 2018) dari 53 persen ekspor Indonesia di seluruh negara ASEAN.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X