Banyak Pengemudi yang Belum Paham Batas Kecepatan di Tol

Kompas.com - 05/09/2019, 13:12 WIB
Petugas dari Kepolisian Daerah Jawa Barat (Polda Jabar) menggunakan alat pendeteksi laju kendaraan (speed gun) di ruas tol Cikampek-Palimanan KM.165 arah Palimanan, di Majalengka, Senin (14/12). Lintas Marga Sedaya (LMS)Petugas dari Kepolisian Daerah Jawa Barat (Polda Jabar) menggunakan alat pendeteksi laju kendaraan (speed gun) di ruas tol Cikampek-Palimanan KM.165 arah Palimanan, di Majalengka, Senin (14/12).

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Kamsel Korlantas Polri Brigjen Pol Chryshnanda Dwilaksana mengatakan, masih banyak pengemudi yang belum paham tentang batas kecepatan di jalan Tol. Padahal, aturan itu begitu penting untuk keamanan dan keselamatan.

"Tidak peduli kecepatan minimal dan maksimal, selama ini para pengendara mobil atau motor tidak memahami mengapa ada pembatasan kecepatan yang ditunjukkan dengan rambu. Kita sering lupa, setiap harinya 60 sampai 80 orang meninggal di jalan." ucap Chryshnanda beberapa waktu lalu.

Baca juga: Polisi Harus Konsisten Tindak Kendaraan yang Langgar Batas Kecepatan

Jenderal bintang satu ini melanjutkan, untuk memahami batas kecepatan teori yang digunakan, yaitu S (jarak) = V (kecepatan) x T (waktu). Jika dipahami, seseorang tahu jarak yang akan dia tempuh dapat tercapai dengan waktu dan kecepatan yang diinginkan.

Tingginya antusiasme pemudik untuk melewati Jalan Tol Trans Jawa terlihat dari meningkatnya volume lalu lintas di Gerbang Tol (GT) KalikangkungDok. Jasa Marga Tingginya antusiasme pemudik untuk melewati Jalan Tol Trans Jawa terlihat dari meningkatnya volume lalu lintas di Gerbang Tol (GT) Kalikangkung

Chryshnanda mengungkapkan, selama ini jika kecepatan minimal tidak terpenuhi maka akan timbul masalah berupa kemacetan. Kemacetan ini secara ekonomi merugikan karena terjadi pengeluaran yang tidak terhitung.

"Kalau lancar, mendorong pengemudi melebihi kecepatan maksimal. Jadinya black spot atau rawan kecelakaan. Ini yang perlu kita dorong, pemahaman tentang kecepatan dalam keselamatan berkendara pada pengemudi dan pengendara di Indonesia," ucap Chryshnanda.

Baca juga: Denda Setengah Juta Menanti Jika Langgar Batas Kecepatan di Tol

Selain itu, untuk menyelesaikan persoalan ini sebenarnya ada teknologi yang dapat diterapkan seperti electronic road pricing, speed trap kamera, dan lain sebagainya. Namun untuk menerapkan teknologi tersebut memang memerlukan kesediaan sarana dan prasarana yang mencukupi.

Kendaraan pemudik dari arah Jakarta melewati jalan tol cikopo palimanan di Jawa Barat, Minggu (2/6/2019). Sistem satu arah atau one way mulai diterapkan di jalan tol Jakarta-Cikampek hingga tol Batang-Semarang di Jawa Tengah pada H-6 Lebaran 2019, Kamis (30/5).KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Kendaraan pemudik dari arah Jakarta melewati jalan tol cikopo palimanan di Jawa Barat, Minggu (2/6/2019). Sistem satu arah atau one way mulai diterapkan di jalan tol Jakarta-Cikampek hingga tol Batang-Semarang di Jawa Tengah pada H-6 Lebaran 2019, Kamis (30/5).

"Untuk saat ini setidaknya kita memiliki rambu kecepatan yang cukup banyak di tiap kota. Kasih rambu dulu . Nomor satu di tol, batas kecepatan harus ada. Tidak perlu muluk-muluk, rambunya dulu. Ketika kita dapat mengendalikan kecepatan kita dapat merubah wajah transportasi jadi lebih baik," ucap Chryshnanda

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X