Pemilik Mobil Wajib Memperhatiikan Oktan BBM Rekomendasi

Kompas.com - 01/07/2019, 09:42 WIB
Petugas melayani pembeli bahan bakar minyak jenis baru, Pertalite, di SPBU Abdul Muis, Jakarta Pusat, Jumat (24/7/2015). PT Pertamina (Persero) hari ini mulai menjual Pertalite dengan oktan 90 kepada konsumen dengan harga Rp 8.400 per liter. KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMOPetugas melayani pembeli bahan bakar minyak jenis baru, Pertalite, di SPBU Abdul Muis, Jakarta Pusat, Jumat (24/7/2015). PT Pertamina (Persero) hari ini mulai menjual Pertalite dengan oktan 90 kepada konsumen dengan harga Rp 8.400 per liter.

JAKARTA, KOMPAS.com - Setiap mesin mobil memiliki desain tersendiri. Masing-masing jenis mesin juga memiliki rekomendasi tertentu untuk bahan bakar minyak (BBM) dengan oktan berapa yang diwajibkan. Hal ini yang akan menjadi patokan oleh pemilik mobil saat akan mengisi bahan bakar.

BBM di Indonesia umumnya terbagi atas beberapa jenis, dilihat dari nilai oktannya atau RON ( Research Octane Number), mulai dari 88, 90, 92, 95, 98, dan 100. Namun, yang umum tersedia hanya sampai RON 88, sementara RON 100 biasanya diperuntukkan balap.

Baca juga: BBM Oktan Tinggi Bikin Awet Usia Mesin Kendaraan

Didi Ahadi, Technical Support Manager PT Toyota Astra Motor (TAM), mengatakan, setiap mobil seharusnya mematuhi penggunaan bahan bakar yang direkomendasikan. Sebab, jika diabaikan, dapat berakibat buruk pada mesin.

"Secara desain, bisa dilihat mobil itu punya perbandingan kompresinya berapa. Dari situ, ditentukanlah minimal oktan yang diperuntukkan mobil tersebut. Harapannya, konsumen dapat mengikuti anjuran," ujar Didi, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini.

Baca juga: Keterkaitan Nilai Oktan Bensin dan Mesin ”Ngelitik”

Didi menambahkan, penggunaan oktan yang tidak sesuai dengan rekomendasi pabrikan dapat membuat adanya penimbunan kerak karbon di ruang bakar. Hal ini terjadi karena bahan bakar tidak terbakar dengan sempurna.

"Proses pembakaran yang tidak sempurna juga akan mengakibatkan terjadinya knocking atau mengelitik," kata Didi.

Didi juga mengatakan, dampak lain dari menggunakan oktan yang rendah dari yang direkomendasikan, dapat membuat tenaga mesin jadi berkurang karena banyak endapan karbon. Selain itu, bisa juga mengganggu komponen lainnya, seperti injector yang tersumbat dan lainnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X