M Wahab S
Pengamat F1 dan Otomotif Nasional

Komentator F1, penulis lepas, founder Forum Komunikasi Klub dan Komunitas Otomotif Indonesia (FK3O), Manager Operasional Shop & Drive PT Astra otoparts Tbk (1999 - 2001), General Manager PT Artha Puncak Semesta Indonesia. Akun twitter : @emwees.

kolom

Perjuangan Tim F1 yang Mempunyai Tradisi Hebat di Musim 2019

Kompas.com - 12/04/2019, 13:32 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KOMPAS.com - Sebelum laga seri pertama F1 musim 2019 di Melbourne Australia, semua sudah memprediksi bahwa Williams akan jadi tim yang paling lemah. Bukan hanya di sisi teknis tetapi keharmonisan tim juga menjadi sumber masalah yang belum bisa diselelesaikan oleh sebuah tim yang mempunyai tradisi hebat di F1.

Paddy Lowe, Technical Director Williams yang juga salah satu pemegang saham, tiba-tiba mengambil cuti dengan alasan pribadi, seminggu sebelum gelaran musim 2019 dimulai. Padahal dia mempunyai rencana besar dalam riset dan pengembangan, bahkan isunya sampai mengorbankan Robert Kubica untuk bergabung di musim 2018 serta menerima Sergey Sirotkin yang didukung oleh investor dari Russia karena alasan “mahar”.

Baca juga: Mendadak F1

 

Masuk akal bila di posisi ini Williams harus merelakan prestasi dan tidak memilih pebalap yang menjanjikan untuk mempersiapan tim riset dan development sehingga dalam 2-3 tahun berikutnya mereka kembali kuat dengan merekrut engineer-engineer baru.

Tim Williams F1 2019formula1.com Tim Williams F1 2019

 

Tetapi siapa sangka hal itu justru membuat perpecahan internal, gejolak para engineer Williams yang sebagian besar masih pengikut Sir Patrick Head (Ex Engineering Director dan Co-Founder Williams), makin membuat Paddy Lowe tidak nyaman. Kendati demikian bukan hal yang mudah untuk Claire Williams (Deputy Principal Williams) untuk mendepak Lowe atas statusnya sebagai pemegang saham.

Baca juga: F1 dan Teknologi-teknologi Terlarang

 

Situasi sulit ini jelas mempengaruhi performa di balapan dan faktanya Williams masih ketinggalan 0.5 detik dibanding tim terlemah di atasnya saat GP Bahrain bahkan 1.5 detik di GP Australia. Berita terakhir saat Bahrain GP 2019, Sir Patrick Head diminta Claire Williams untuk memperbaiki situasi ini sebagai konsultan.

Tim McLaren F1 2019crash.net Tim McLaren F1 2019

Dont expect too much

 

Berikutnya soal tim yang mempunyai tradisi tidak kalah hebat yaitu McLaren. Sejujurnya saya masih menempatkan McLaren sebagai tim terlemah berikutnya. Tetapi hasil yang dicapai di GP Bahrain kemarin bukan hanya membuat saya mulai ragu dengan prediksi saya di sisi teknis, tetapi juga membuat saya harus acungi jempol terhadap performa individual kedua pebalap nya. Setidaknya duo Carlos Sainz dan Lando Norris lebih terlihat bertarung dengan keterbatasannya dibanding Pierre Gasly di Red Bull.

Perubahan engine supplier dari Honda ke Renault memasuki tahun ke-2 dan wajar bila saya kategorikan “don’t expect too much” untuk hubungan keduanya di usia yang masih sangat dini. Mengingat banyak problem saat masih menggunakan mesin Honda yang bersumber pada kegagalan McLaren men-delivery paket yang mumpuni.

Performa tim McLaren di GP Bahrain 2019motorsportmagazine.com Performa tim McLaren di GP Bahrain 2019

 

MGU-H Honda banyak dijadikan isu sentral problem di McLaren dan jika sebuah tim bermasalah dengan komponen tersebut maka kehilangan sampai 20 persen tenaga akan terjadi. Namun di paddock santer beredar bahwa McLaren gagal memaksimalkan pengaturan engine mode hingga ketahanan mesin tidak sesuai rencana awal Honda.

Secepat itukah James Key (Technical Director McLaren) yang sudah memahami dengan baik mesin Renault saat bertugas di Scuderia Toro Rosso, berkolaborasi dengan Pat Fry (Engineering Director McLaren) yang pasti paham betul membuat engine mode menjadi maksimal dalam membuat McLaren kembali membangun kejayaan.

Baca juga: Berjudi ala F1

 

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.