Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Kata PLN, Insentif Program LCGC Lebih Tepat untuk Mobil Listrik

JAKARTA, KOMPAS.com - Program Kendaraan Bermotor Hemat Bahan Bakar dan Harga Terjangkau (KBH2) atau dikenal dengan Low Cost Green Car (LCGC), yang sudah dimulai sejak 2021 perlu mendapat kebijakan baru. Hal tersebut seiring perkembangan teknologi dan isu lingkungan yang semakin kuat.

PT PLN berharap pemerintah memperluas aturan mobil murah ramah lingkungan atau LCGC menjadi Low Carbon Emission Vehicle (LCEV). Kondisi tersebut dilakukan untuk mendorong ekosistem kendaraan listrik di Indonesia demi mencapai target karbon netral pada 2060.

Menurut Bob Saril, Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan harga mobil listrik dengan spesifikasi yang setara LCGC masih lebih mahal.

Namun, seiring perkembangan teknologi, terutama perkembangan baterai yang harganya sepertiga dari keseluruhan mobil, tentunya ke depan mobil listrik akan semakin murah.

"Produsen otomotif China sudah memproduksi mobil listrik murah di kisaran harga Rp 60 juta. Saya kira program LCGC ke depan akan lebih tepat untuk mobil listrik. Terlebih Indonesia sudah mampu memproduksi baterai mobil di dalam negeri," kata Bob dalam keterangan resmi PLN, Minggu (21/11/2021).

Menurut Bob, terkait dengan pilihan mobil ramah lingkungan saat ini di Indonesia, kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) alias listrik murni, lebih baik dibandingkan mobil plug-in hybrid electric vehicle (PHEV).

Hal tersebut lantaran KBLBB benar-benar nol emisi, sementara mobil hybrid masih menghasilkan emisi, karena listriknya diproduksi menggunakan internal combustion engine (ICE).

"Selain itu, efisiensi mobil listrik akan sangat terasa untuk pelanggan jika langsung ke mobil full listrik. Sistem mobil listrik simpel, artinya biaya pemeliharaannya murah juga. Komponennya juga lebih sedikit, tidak seperti ICE yang jumlahnya cukup banyak sehingga untuk jangka panjang pemeliharaan lebih hemat," kata Bob.

Lebih lanjut dia menjelaskan, dari sisi konsumsi bahan bakar mobil listrik terbukti lebih efisien dibandingkan mobil konvensional.

Untuk 1 kilo Watt hour (kWh) listrik mampu menggerakkan mobil sejauh 10 kilometer (km), sama dengan konsumsi mobil konvensional untuk 1 liter bensin.

"Penghematannya di mana? Katakanlah menggunakan Pertamax yang satu liter sekitar Rp 9.000, 1 kWh listrik tegangan rendah sekitar Rp 1.444. Itu berarti dapat penghematannya mencapai enam kalinya, sangat hemat sekali," ujarnya.

Namun di lain sisi, Bob mengaku memang menggunakan mobil listrik bakal meningkatkan tagihan listrik rumah. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan biaya pengeluaran untuk BBM bulanan tetap jumlahnya berbeda.

Balum lagi ditambah dengan program yang ditawarkan PLN. Mulai dari diskon pengisian mobil listrik dari jam 10 sampai 5 pagi. Selain itu, ada juga tambah daya bagi pemilik mobil listrik dengan memberi diskon penambahan yang tadinya maksimal Rp 4,5 juta menjadi Rp 150.000.

Tak hanya itu, PLN juga sudah menyiapkan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan membuka kesempatan pihak swasta ikut menyediakan fasilitas pengisian energi kendaraan listrik. Dengan demikian bisa menjadi peluang usaha baru.

Berbeda dengan Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU), SPKLU bisa dibangun dengan lebih sederhana dan tidak memerlukan lahan yang besar.

"Siapapun bisa membuka SPKLU, hanya memerlukan lahan 50×50 centimeter (cm) untuk satu charging station atau satu meter untuk dua, serta tempat untuk parkir waktu mengisi daya mobil. Tidak perlu lahan khusus untuk penampungan seperti BBM, karena kita penampungannya di jaringan," kata Bob.

https://otomotif.kompas.com/read/2021/11/24/133100015/kata-pln-insentif-program-lcgc-lebih-tepat-untuk-mobil-listrik

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke