Selasa, 21 Oktober 2014

Otomotif


Basuki dan Kisah Natalnya

Penulis: Kurnia Sari Aziza | Senin, 24 Desember 2012 | 20:12 WIB
|
Share:
Sumber : - | Author : Alfiyyatur Rohmah

Basuki Tjahaja Purnama, wakil gubernur DKI Jakarta tengah berbincang dengan pengurus gereja dan jemaat di GKY Pluit, Senin (24/12/2012).

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama tentunya memiliki kisah tersendiri saat merayakan hari Natal dan Tahun Baru di kampungnya di Belitung Timur. Pria yang akrab disapa Ahok itu mengaku sering menggelar open house. Basuki pun menceritakan masa-masa Natal yang dihabiskan bersama keluarganya.

"Dulu saat Natal dan Tahun Baru, saya biasanya open house di Belitung Timur. Satu keluarga kumpul semuanya," kata Basuki, saat ditemui wartawan, di Jakarta, Senin (24/12/2012).

Saat masih duduk di bangku sekolah, Ayah Basuki mengundang karyawan beserta keluarga. "Dulu kan susah dapat buah kayak anggur sama apel. Jadi Bapak saya suka bawa dari Jakarta," kata Basuki.

Basuki mengatakan, sikap melayani ayahnya itulah yang menjadi inspirasinya untuk menjadi seorang pemimpin. "Kita mesti melayani karyawan dengan baik," ujarnya.

Setiap Natal dan Tahun Baru, kata Basuki, ia tidak mempunyai ritual khusus, terutama saat liburan. Basuki mengaku lebih suka berkumpul di rumah bersama keluarga besarnya. "Saya mah orangnya cuek saja, Natal dan Tahun Baru bajunya sama ya enggak apa apa, kalau mesti baju bagus ya tinggal beli saja," kata Basuki.

Sementara itu, pada Natal 2012, Basuki terpaksa menghabiskannya di Jakarta, lantaran kesibukannya sebagai wakil gubernur DKI Jakarta. "Keluarga di Belitung Timur juga tidak ke sini, soalnya di sana juga open house," kata Basuki.

Pada Senin ini, Basuki dan keluarga akan melaksanakan kebaktian Natal di di Gereja Kristen Yesus (GKY) Pluit. Oleh karena itu, ia tidak akan ikut melakukan kunjungan ke gereja-gereja.

"Saya kan ke Gereja. Jadi sudah dibagi-bagi siapa mau kemana, terus saya langsung lapor ke Pak Gubernur, saya yang di Pluit saja," kata Basuki seraya tertawa.


Editor : Hindra