Sabtu, 19 April 2014

Otomotif


Kembalinya Kaisar China ke Indonesia

Penulis: | Jumat, 20 Februari 2009 | 14:56 WIB
|
Share:
  • Sumber : - | Author : MOTOR PLUS/GT

  • Sumber : - | Author : MOTOR PLUS/GT

    Ramai lalulintas hanya sempat menembus kecepatan tertinggi 60 km/jam

  • Sumber : - | Author : MOTOR PLUS/GT

    Sedikit vibrasi, tapi dikendarainya enjoy

Tampilannya mirip banget sama Harley-Davidson. Bahkan, konsep dapur pacunya juga mirip dengan motor asal Amrik itu. Demikian sekilas sosok motor Kaiser Ruby 250 asal China yang sempat meramaikan pasar sepeda motor Indonesia, kemudian hilang. Kini, mereka hadir kembali dengan moto "The Legend Reborn".

Kata "legenda" yang disematkan pada Ruby bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, boleh jadi inilah produk yang dibanggakan Negeri Tirai Bambu untuk membendung pasar domestik dari serbuan produk luar. Kedua, kemiripannya dengan H-D, tak cuma dari sisi bentuk, seperti desain chopper yang khas Amrik. Lihat bentuk mesin dengan konfigurasi V berpendingin udara dan dua silinder sama seperti H-D.

Saat dijajal di jalanan keriting di Citeureup, Bogor, Ruby tetap enjoyable dikendarai. Tenaga mesin yang 17,7 dk dirasa masih halus seperti merasakan power Kawasaki Ninja 250R yang lembut begitu grip gas dibuka cepat.

Dari segi tenaga, Ruby unggul dari Honda Tiger yang hanya 16,5 dk. Seharusnya, tarikan (akselerasi) sama dengan produk Honda itu. Namun kenyataannya, walau mengusung mesin 250 cc dua silinder, Ruby tidak galak. Begitu juga suara knalpot yang mirip motor kecil. Padahal, motor bisa garang jika pipa gas buang dirancang ulang.

"Banyak pemilik Ruby ubah knalpot. Tenaganya baru terasa dan suaranya pun persis motor besar," ungkap Denny Chandra, Marketing Support Manager PT Kaisar Motorindo Industri, selaku produsen Kaisar, Jakarta.

Selama pengujian berlangsung di keramaian lalu lintas, Ruby hanya sekali bisa menembus kecepatan tertinggi 60 km/jam. Selebihnya, Ruby melesat dengan rata-rata 50 km/jam dan pada kecepatan itu terdapat getaran.

Selain itu, tenaga yang dihasilkan tidak merata. Seperti pada putaran menengah, tenaga dari mesin lambat sekali sehingga harus sabar jika si penunggang mau menyalip. Masih ada lagi yang menjadi cacat dan mesti diperhatikan, yakni pengereman depan dan belakang, yang butuh kosentrasi karena tenaga besar waktu kedua rem difungsikan.

Buat berkendara di dalam kota, motor ini enggak jadi masalah. Handling pun terbilang mudah. Terkecuali footrest, yang jika salah setel (mendatar), akan menyulitkan kaki mengungkit tuas persneling.* (Niko)


Editor :