JAKARTA, KOMPAS.com – Kendaraan listrik bisa mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor minyak dan mendorong kemandirian energi yang lebih bersih serta berkelanjutan.
Dengan semakin banyaknya kendaraan listrik, permintaan terhadap bahan bakar fosil, terutama minyak, diprediksi akan menurun signifikan.
Menteri BUMN Erick Thohir, mengatakan, penggunaan kendaraan listrik dapat menekan angka impor minyak.
Baca juga: Impresi Awal Jajal Kawasaki Meguro S1
Ia pun berharap, penetrasi kendaraan listrik bisa lebih masif lagi, salah satu contohnya seperti penjualan pada pameran IIMS 2025 yang mencapai 60 persen penjualan dibandingkan mobil ICE (Internal Combustion Engine).
“Kalau bisa fifty-fifty, karena kita ingin mengurangi juga sesuai dengan visi Bapak Presiden untuk impor minyak. Berarti kan kalau 50 persen naik mobil listrik, bisa mengerem impor minyak,” ujar Erick kepada Kompas.com di JIExpo, Kemayoran, Jakarta (22/2/2025).
Seperti diketahui, kendaraan listrik lebih efisien dalam penggunaan energi, dengan biaya operasional yang jauh lebih murah dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil.
Baca juga: Urban Cruiser Bakal Jadi EV Baru Toyota, Meluncur di GIIAS 2025?
Selain itu, kendaraan listrik juga mendukung pemanfaatan energi terbarukan, yang dapat mengurangi konsumsi energi fosil dan dampak lingkungan.
“Karena gini, impor minyak enggak mungkin langsung tidak ada, karena kan kebutuhan impor minyak itu salah satunya untuk petrochemical, buat plastik dan lain-lain,” ucap Erick.
“Tetapi Bapak Presiden juga mendorong bagaimana, produksi minyak bisa kita tingkatkan, tapi kan ini masih transisi. Jadi kalau 1-3 tahun lagi tiba-tiba produksi minyak kita bisa meningkat, dengan investasi dan macam-macam, tentu ini akan bagus buat ekonomi nasional,” ujarnya.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.