Kompas.com - 19/08/2022, 13:01 WIB
|

TANGERANG, KOMPAS.com - Executive Vice President Toyota Daihatsu Engineering & Manufacturing (TDEM) Pras Ganesh mengatakan, saat ini hanya sekitar 3-5 persen masyarakat yang rela untuk membayar lebih untuk beralih menggunakan kendaraan listrik.

Golongan masyarakat tersebut, berada pada segmen premium yang tak terlalu memikirkan besaran harga suatu barang di pasar. Sementara sisanya, berharap mobil listrik memiliki harga yang sama dengan kendaraan konvensional atau punya harga terjangkau.

Sehingga, perlu adanya suatu terobosan dan tahapan yang jelas dalam upaya mendorong pemerataan penggunaan kendaraan ramah lingkungan. Sebab era elektrifikasi harus bisa diakses oleh siapapun.

Baca juga: Bos Toyota Asia Menjelaskan Mengapa Fokus Dorong Hybrid dan Fuel Cell

ILustrasi mobil listrikDok. Pixabay.com ILustrasi mobil listrik

"Data ini berdasarkan studi dari Deloitte. Pada negara berkembang, hal ini jadi penting karena ada berbagai keterbatasan," kata dia di Gaikindo International Automotive Conference (GIAC) ke-16, Kamis (18/8/2022).

Dari temuan tersebut, Pras menyimpulkan bahwa kendaraan listrik berteknologi hibrida merupakan jenis mobil ramah lingkungan yang dapat diandalkan untuk mempopulerkan era elektrifikasi.

Sementara produk plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) seperti Prius PHEV, yang memiliki tingkat efisiensi emisi dan bahan bakar lebih besar menyongsong pasar premium seperti para pembeli kendaraan kedua.

"Sebab mobil hybrid itu tidak perlu pergantian karakteristik dalam penggunaan harian. Lalu tidak memerlukan infrastruktur charging station, serta terjangkau dibanding kendaraan listrik lainnya," kata Pras.

Baca juga: Masyarakat Indonesia Mulai Antusias dengan Kendaraan Listrik

Penghitungan konsumsi BBM total 8 mobil hybrid dan PHEV dilakukan di Pulau Bali, hasilnya cukup mengejutkan.CUTENK Penghitungan konsumsi BBM total 8 mobil hybrid dan PHEV dilakukan di Pulau Bali, hasilnya cukup mengejutkan.

"PHEV mencangkup pasar premium dengan penggunaan jarak menengah. Ini dikarenakan harganya yang lebih mahal dan para pengguna harus mulai untuk membiasakan diri melakukan pengisian daya di charging station," lanjut dia.

Sementara battery electric vehicle (BEV) atau mobil listrik murni, di tahap awal menuju era elektrifikasi bisa dimanfaatkan sebagai transportasi publik, ride sharing, atau kendaraan yang mengantarkan masyarakat pada titik tertentu (point-to-point logistic).

Mengingat, pada segmen terkait memerlukan suatu investasi besar khususnya dalam pembangunan stasiun pengisian baterai. Belum lagi, segala ekosistem baru harus dibentuk termasuk daur ulang baterai sebagai komponen utama.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.