Kompas.com - 18/06/2022, 15:31 WIB

JAKARTA,KOMPAS.com - Berkendara dengan mobil matik memberikan kenyamanan tersendiri, tak perlu repot-repot pengemudi cukup memainkan pedal gas dan rem.

Wajar saja, jika peminat mobil matik di Tanah Air terus mengalami peningkatan, khususnya di beberapa kota besar. 

Meski demikian, perawatan mobil matik berbeda dibandingkan mobil manual. Misal soal pergantian oli transmisi matik yang rata-rata dilakukan tiap jarak tempuh 10.000-15.000 kilometer (km).

Bila sampai telat, bisa berdampak buruk bagi komponen transmisi. Seperti, kampas kopling, pelat kopling, selenoid, bahkan valve body yang bila sampai rusak akan membuat kinerjanya terganggu.  

Baca juga: Cara Bedakan Pelat Nomor Kendaraan Asli dan Palsu

Dealer Technical Support Dept. Head Toyota Astra Motor (TAM) Didi Ahadi menjelaskan, ciri-ciri kerusakan kampas kopling biasanya diawali dengan mobil yang kehilangan tenaga.

Mitsubishi Xpander melintas tanjakan Sitinjau Lauik di Sumatera Barat.Youtube Sitinjau Lauik Truk Video Mitsubishi Xpander melintas tanjakan Sitinjau Lauik di Sumatera Barat.

Jika melewati tanjakan atau menyalip kendaraan lain, putaran mesin tak sesuai dengan tenaga yang di hasilkan. Jadi, gejalanya sama saja dengan mobil manual yang kampas koplingnya habis. 

"Ketahuan saat pedal gas diinjak dalam, angka jarum rpm speedometer naik begitu pula suara raungan mesin mobil. Namun output power yang di hasilkan kecil," ujarnya kepada Kompas.com, Sabtu (18/6/2022). 

Umumnya, lanjut Didi, kerusakan kampas kopling matik disebabkan karena pemilik yang abai dari sisi perawata. Selain pergantian oli juga soal pengurasan yang disarankan tiap interval 80.000 km . 

Suparna Kepala Bengkel Auto2000 Cilandak menjelaskan, keawetan kampas kopling juga bisa dipengaruhi dari gaya berkendara, terutama ketika macet.

Baca juga: Ganti Oli Transmisi Mobil Matik, Bukan Hanya Berdasarkan Jarak Tempuh

Biar awet, sebaiknya pengemudi memindahkan posisi tuas persneling ke N (Netral) jika berhenti dalam durasi sekitar 2-3 menit. 

"Bila mengantre di lampu merah jika terlalu rama menahan laju mobil dengan rem, jika di biarkan dalam waktu lama akan menyebabkan kerusakan pada bagian kampas kopling," ujarnya. 

Test Drive All New Xenia 1.500 cc ASA CVTKOMPAS.com/Adityo Wisnu Test Drive All New Xenia 1.500 cc ASA CVT

Supaya sistem transmisi aman, Suparna menyarankan tidak menahan posisi mobil dengan posisi D dalam durasi lama. Termasuk kebiasaan kick down berulang jika hendak menyalip yang menimbulkan hentakan pada sistem transmisi matik. 

"Cara mengemudi yang smooth selain nyaman, juga bisa menjaga keawetan beberapa komponen transmisi matik," ucapnya. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.