Pengemudi Bus Masih Minim Empati di Jalan Tol

Kompas.com - 30/08/2021, 11:22 WIB
Bus AKAP Murni Jaya murnijayaloversBus AKAP Murni Jaya

JAKARTA, KOMPAS.comJalan tol yang semakin terhubung antar daerah semakin dimanfaatkan operator bus AKAP di Indonesia. Sayang, mulusnya jalan tol ini kerap digunakan pengemudi bus untuk mengebut, bahkan sampai kecepatan puncaknya.

Tidak jarang melihat aksi bus yang mengebut, menyalip dari bahu jalan, bahkan tidak menjaga jarak aman dengan kendaraan di depan. Padahal, kecelakaan yang melibatkan bus di Jalan tol bisa dibilang cukup sering terjadi.

Misalnya kecelakaan bus yang menabrak kendaraan lain di bahu jalan, ada juga yang selip, sehingga terguling. Pengemudi bus nampaknya tidak paham, mereka membawa banyak nyawa penumpang yang harus dijaga keselamatannya di jalan.

Baca juga: Lelang Toyota Land Cruiser Hardtop, Limit Rp 44 Juta

Kendaraan melaju di jalan tol Trans Jawa ruas Ngawi-Kertosono kilometer 603-604 di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Minggu (9/5/2021).ANTARA FOTO/SISWOWIDODO Kendaraan melaju di jalan tol Trans Jawa ruas Ngawi-Kertosono kilometer 603-604 di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Minggu (9/5/2021).

Founder & Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting Jusri Pulubuhu mengatakan, pengemudi bus memiliki kesadaran keselamatan mengemudi yang rendah, salah satu faktornya adalah proses menjadi pengemudi bus.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Seperti kita ketahui, proses seorang pengemudi bus atau truk di Indonesia untuk mendapatkan SIM umum, tidak berbasis kepada pelatihan, tetapi hanya empiris atau pengalaman saja,” ucap Jusri kepada Kompas.com, belum lama ini.

Mungkin sudah banyak yang mengetahui, untuk menjadi pengemudi bus, bisa berangkat dari kernet. Pertama masih mencoba untuk parkir, lama-kelamaan coba mengemudi di jalan tol, dan akhirnya menjadi pengemudi.

Baca juga: Terganggu Saat Melaju, Aleix Espargaro Marahi Adiknya Sendiri

Jusri mengatakan, untuk mengemudi di jalan, bukan hanya persoalan hard skill (praktek mengemudi), tetapi juga soft skill. Hard skill nya saja sudah salah, harus diperoleh dari sekolah atau training, bukan dari pengalaman.

“Sedangkan soft skill lebih kepada empati, moralitas, perilaku, komitmen, kesadaran, kesabaran, intelegensi. Hard skill sebagai bagian proses pengambilan SIM dan harus aman di jalan dan buat orang lain yang merupakan proses soft skill,” kata Jusri.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.