Pengaruh Mesin Mobil Bila Diisi Pertalite Bukan Pertamax

Kompas.com - 23/03/2021, 18:01 WIB
Petugas SPBU menggunakan alat pelindung wajah saat melayani pengendara di SPBU Pertamina 31.128.02 di Jl. Letjen M.T. Haryono, Jakarta Timur, Senin (1/6/2020). Penggunaan alat pelindung wajah (Face Shield) tersebut sebagai salah satu upaya untuk melindungi diri saat berhubungan langsung dengan pengendara dalam pencegahan penyebaran COVID-19. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPetugas SPBU menggunakan alat pelindung wajah saat melayani pengendara di SPBU Pertamina 31.128.02 di Jl. Letjen M.T. Haryono, Jakarta Timur, Senin (1/6/2020). Penggunaan alat pelindung wajah (Face Shield) tersebut sebagai salah satu upaya untuk melindungi diri saat berhubungan langsung dengan pengendara dalam pencegahan penyebaran COVID-19.

JAKARTA, KOMPAS.com – Ketika sudah memiliki mobil, tentu saja salah satu hal yang perlu dilakukan adalah mengisi bahan bakarnya. Jika memakai bensin, ketika sampai di SPBU Pertamina, tersedia pilihan Pertalite, Pertamax dan Pertamax Turbo.

Beberapa orang yang masih awam soal bahan bakar, biasanya memilih Pertalite karena harganya yang lebih murah, Rp 7.650 per liter.

Selain itu, Pertalite juga menjadi BBM bensin paling murah setelah Premium mulai dikurangi jumlahnya.

Sedangkan Pertamax dijual di Jakarta dan sekitarnya dengan harga Rp 9.000 per liter. Pertamax sendiri memiliki nilai oktan yang lebih tinggi daripada Pertalite yakni 92, sedangkan Pertalite 90.

Baca juga: Catat, Ini 41 Lokasi Baru Kamera Tilang Elektronik di Jakarta dan Sekitarnya

Ilustrasi SPBU PertaminaPertamina Ilustrasi SPBU Pertamina

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Lalu di balik harga per liternya yang lebih murah, bagaimana jika mobil diisi dengan Pertalite?

Kepala Bengkel Auto2000 Cilandak Suparna mengatakan, menggunakan bahan bakar harus disesuaikan dengan spesifikasi mesinnya.

Pabrikan sebenarnya sudah merekomendasikan minimal oktan bahan bakar yang bisa digunakan.

“Misalnya direkomendasikan oleh pabrik untuk memakai oktan 92, tapi malah diisi oktan 90. Nantinya akan menimbulkan beberapa efek pada mesin,” ucap Suparna kepada Kompas.com, Selasa (23/3/2021).

Baca juga: Mengenal PO Eka dan Mira, Lawan Berat PO Sumber Kencana

Sebelum mengetahui efeknya, rekomendasi pabrikan untuk memakai BBM dengan kadar oktan tertentu menyesuaikan dengan tekanan kompresi di mesin.

Begitu juga dengan suhu di ruang mesin karena kompresi berbanding lurus dengan suhu.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.