Instalasi Listrik Jadi Salah Satu Sebab Bus Bisa Terbakar

Kompas.com - 18/03/2021, 17:21 WIB
Sebuah bus terbakar di Jalan tol Jagorawi, Jakarta Timur, Selasa (27/10/2020) Dok Sudin Gulkarmat Jakarta TimurSebuah bus terbakar di Jalan tol Jagorawi, Jakarta Timur, Selasa (27/10/2020)

JAKARTA, KOMPAS.com – Kasus bus yang terbakar di Indonesia memang kerap terjadi. Sejak tahun 2017 sampai 2021, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menginvestigasi tujuh bus yang terbakar.

Senior Investigator KNKT Ahmad Wildan mengatakan, dari tujuh kasus bus terbakar penyebabnya dibagi menjadi tiga, error by design, error by maintenance dan error by operational.

“Munculnya kebakaran itu ada tiga syaratnya, oksigen, benda yang mudah terbakar, dan pemantik atau sumber api. Tinggal cermati hal-hal apa yang bisa memantik atau menimbulkan api di sebuah bus,” ucap Wildan dalam acara Accident Review Forum “Keselamatan Kelistrikan Mobil Bus”, Kamis (18/3/2021).

Baca juga: Ditagih Debt Collector, Pastikan Mereka Bawa Surat Ini

Stop jontak di busIstimewa Stop jontak di bus

Wildan mengingatkan, yang harus paling diwaspadai dari pemantik api di bus yakni dari instalasi kelistrikan karena bisa menyebabkan short circuit atau korsleting. Ada beberapa penyebab korsleting pada instalasi kelistrikan ini.

“Pertama, adanya isolasi kabel yang terbuka. Ketika kabel melewati lubang yang tajam, kemudian terkena gesekan, tinggal tunggu waktu saja isolasinya terbuka sehingga berisiko korsleting,” kata Wildan.

Kedua, kabel yang digunakan tidak sesuai baik ukuran maupun jenisnya. Lalu, penyambungan kabel yang tidak tepat bisa membuat kebocoran listrik, kabel terkena air, kabel overheat, terkena benda tajam dan masih banyak lagi.

Baca juga: Ini Estimasi Harga HR-V 1.8L jika Dapat PPnBM 0 Persen

“Untuk mengantisipasi, sebenarnya ATPM sudah membuat manual body mounting. Jika karoseri pembuat bus mengikuti manual tadi, kebakaran bus bisa diantisipasi,” ucapnya.

Untuk menghindari kejadian bus terbakar, pertama, desain kelistrikan harus benar. Wildan mengatakan, kabel itu seperti pipa, ada kapasitas dan yang lewat harus sesuai. Kalau berlebihan bisa overheat sehingga bisa korsleting.

“Kedua, instalasi kelistrikannya harus benar, jangan main tekuk kabel. Ketiga, materialnya harus sesuai dengan standar praktis industri,” kata dia.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X