Mayoritas Pengendara Motor Belajar Otodidak, Jadi Tak Paham Aturan

Kompas.com - 18/01/2021, 09:02 WIB
Petugas gabungan dari TNI, Polri, Polisi Pamong Praja dan Dishub DKI Jakarta melakukan imbauan kepada pengendara motor untuk dapat mematuhi penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di jalan Penjernihan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (13/4/2020). Imbauan ini dilakukan agar masyarakat menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) selama 14 hari, yang salah satu aturannya adalah pembatasan penumpang kendaraan serta anjuran untuk menggunakan masker jika berkendara.(KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG) Kompas.COM/MUHAMMAD NAUFALPetugas gabungan dari TNI, Polri, Polisi Pamong Praja dan Dishub DKI Jakarta melakukan imbauan kepada pengendara motor untuk dapat mematuhi penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di jalan Penjernihan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (13/4/2020). Imbauan ini dilakukan agar masyarakat menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) selama 14 hari, yang salah satu aturannya adalah pembatasan penumpang kendaraan serta anjuran untuk menggunakan masker jika berkendara.(KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG)

JAKARTA, KOMPAS.com – Kecelakaan yang melibatkan motor biasanya mengakibatkan cedera parah bahkan bisa sampai kehilangan nyawa. Selain itu, di Indonesia masih banyak juga kecelakaan motor yang terjadi.

Salah satu penyebab kecelakaan motor adalah kurangnya kesadaran akan keselamatan dan aturan lalu lintas. Head of Safety Riding Promotion Wahana Agus Sani mengatakan, rata-rata pengendara motor kurang sadar dengan aturan yang berlaku.

Kemudian, latar belakang dari perilaku pengendara motor di Indonesia ini salah satunya karena tidak adanya sekolah khusus berkendara roda dua yang aman untuk masyarakat. Jadi, mayoritas pengendara motor di Indonesia itu adalah belajar sendiri atau otodidak.

Baca juga: Cerita Ferrari Seharga Rp 2,8 Miliar yang Bodinya Penuh Coretan

Astra Honda Motor Safety Riding and Training Center (AHMSRTC), fasilitas pelatihan berkendara terbesar se-Asia TenggaraIstimewa Astra Honda Motor Safety Riding and Training Center (AHMSRTC), fasilitas pelatihan berkendara terbesar se-Asia Tenggara

“Ketika pengendara belajar secara otodidak, mereka tidak mendapatkan pemahaman tentang berkendara yang aman dan nyaman,” ucap Agus kepada Kompas.com, Minggu (17/1/2021).

Selain itu, pengendara motor juga tidak akan paham soal pentingnya mematuhi aturan-aturan lalu lintas di jalan raya, apalagi etika berkendara. Mereka hanya tahu cara mengoperasikan kendaraan dengan skill yang terbatas.

“Padahal selain skill berkendara, mereka harus mempunyai pemahaman tentang rambu-rambu lalu lintas dan etika berkendara yang baik,” kata Agus.

Baca juga: Benarkah Mobil Diesel Lebih Irit dan Bertenaga Dibanding Mesin Bensin?

Mengenai sekolah khusus berkendara motor, Agus mengatakan bahwa di Indonesia masih sangat sedikit fasilitasnya. Jika dibandingkan dengan banyaknya penjualan sepeda motor dan penggunanya, fasilitas tersebut masih kurang jumlahnya.

“Maka, akan sangat sulit jika berharap pengendara di Indonesia bisa tertib dan taat dalam berlalu lintas serta waspada terhadap potensi kecelakaan yang ada,” ucapnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X