Liburan Akhir Tahun, Waspada Fatalitas Berkendara di Musim Hujan

Kompas.com - 26/12/2020, 13:22 WIB
Berkendara di musim hujan KOMPAS.COM/STANLY RAVELBerkendara di musim hujan
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Meski ada sejumlah protokol kesehatan yang harus dipatuhi, namun hal tersebut tak menyurutkan sebagian besar minat masyarakat untuk pergi berlibur di musim Natal dan tahun baru menggunakan mobil pribadi.

Berdasarkan data PT Jasa Marga (Persero) Tbk, pada 23-24 Desember 2020, terdapat 356.010 kendaraan yang meninggalkan Jakarta untuk ke luar kota. Jumlah tersebut mengalami kenaikan 35,8 persen dibandingkan lalu lintas normal, diprediksi makin meningkat saat jelang akhir tahun.

Bagi yang berpergian menggunakan mobil pribadi, selain mematuhi protokol kesehatan ada baiknya juga memperhitungakan faktor keselamatan. Pasalnya, beberapa ruas jalan tol yang merupakan akses untuk keluar-masuk Jakarta belakangan ini kerap diguyur hujan lebat.

Baca juga: Kaleidoskop Mobil Elektrifikasi yang Hadir di Tengah Pandemi Covid-19

Cuaca ekstrem tersebut tentu akan sangat menggangu perjalanan. Mulai dari jarak pandang atau vibilitas yang menjadi sempit, sampai bahaya laten atau tersembunyi lain yang berpotensi menimbulkan kecelakaan.

Aquaplaningwww.tirendo.nl Aquaplaning

Salah satunya yang harus diwaspadai dan diperhatikan ketika berkendara di musim hujan, terutama saat melintasi jalan tol adalah aquaplaning.

 

Konon, kebanyakan pengendara kurang menyadari bahaya tersembunyi aquaplaning, padahal efeknya memiliki risiko tinggi.

PG-On Vehicle Test (OVT) Manager PT Gajah Tunggal Zulpata Zainal mengatakan, aquaplaning merupakan kondisi di mana ban mobil tak bisa menapak dengan seutuhnya pada permukaan jalan atau aspal akibat adanya daya tekanan dari genangan air.

Berkendara di musim hujanKOMPAS.COM/STANLY RAVEL Berkendara di musim hujan

"Ketika berkendara dalam kecepatan tinggi di bawah guyuran hujan dan lintasan basah apalagi ada genangan, potensinya akan sangat besar. Karena ban mobil tak bisa menapak, otomatis daya cengkram ban juga tidak ada, akibatnya roda akan kehilangan traksi sehingga memungkinkan pengendara kehilangan kendali," ucap Zulpata ketika dihubungi Kompas.com, belum lama ini.

Baca juga: Resmi, Liburan Naik Mobil Pribadi Tak Wajib Tes Antigen

Masalah aquaplaning menurut Zulpata, bisa menimpa pengendara mobil manapun. Artinya tak berpengaruh pada jenis mobil dan kondisi ban, baik baru atau yang sudah aus.

Karenanya, Zulpata mengingatkan pengendara mobil tak hanya harus memperhatiakan kondisi ban, tapi juga yang tak kalah penting adalah menjaga kecepatan saat berkendara di musim hujan.

Ilustrasi berkendara di musim hujanillawarramercury.com.au Ilustrasi berkendara di musim hujan

"Kalau kondisi ban sudah botak, itu tidak perlu di tanyakan lagi, hukumnya sudah fatal. Perlu diketahui aquaplaning ini bisa juga terjadi pada ban yang secara kondisi masih bagus, terutama bila alur pada permukaan ban memang tidak bagus, tidak bisa mengurai air dengan baik yang membuat seakan ban melayang dan sulit dikendalikan. Jadi paling penting itu turunkan kecepatan," ujar Zulpata.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X