Pendidikan Ulang yang Sistematis Dibutuhkan Seluruh Pengemudi Truk

Kompas.com - 21/11/2020, 08:22 WIB
Foto: Kondisi Truk pasca tabrakan beruntun di Jalan Asahan KM 3,5 Dolok Marlawan, Kecamatan Siantar Kabupaten Simalungun, Kamis (19/11/2020). KOMPAS.COM/Teguh PribadiFoto: Kondisi Truk pasca tabrakan beruntun di Jalan Asahan KM 3,5 Dolok Marlawan, Kecamatan Siantar Kabupaten Simalungun, Kamis (19/11/2020).

JAKARTA, KOMPAS.comKecelakaan yang melibatkan truk besar memang tidak ada habisnya. Salah satu faktornya yaitu dari pengemudinya yang walaupun memiliki Surat Izin Mengemudi ( SIM) tetapi tidak kompeten.

Ketua Harian Perkumpulan Pengemudi Profesi Nusantara, Elias C. Medellu mengatakan, kecelakaan yang melibatkan truk atau kendaraan besar lainnya di jalan raya akan terus terjadi jika kondisi transportasi tidak ada perbaikan mutu atau kompetensi pengemudi.

“Bukan pembinaan yang dibutuhkan, tapi pendidikan ulang yang sistematis. Kemudian pengemudi diuji untuk menyaring yang tidak kompeten,” ucap Elias kepada Kompas.com, Jumat (20/11/2020).

Baca juga: Kasus Ayla vs CBR1000RR SP, Pantaskah Moge Supersport Dipakai di Jalan Raya?

Foto: Truk kontainer pasca kejadian di Jalan Asahan, Kecamatan Siantar Kabupaten Simalungun, Kamis (19/11/2020).KOMPAS.COM/Teguh Pribadi Foto: Truk kontainer pasca kejadian di Jalan Asahan, Kecamatan Siantar Kabupaten Simalungun, Kamis (19/11/2020).

Menurut Elias, jika melakukan pendidikan ulang yang sistematis tersebut sekiranya akan tergusur 30 persen pengemudi truk yang tidak kompeten. Walaupun lumayan besar perkiraannya, setidaknya akan setimpal dengan lebih amannya jalan raya.

Pendidikan ulang untuk para pengemudi truk ini berarti kembali ke bagian teori-teorinya dahulu. Karena soal skill, Elias mengatakan kalau pengemudi truk di Indonesia sudah tidak ada tandingannya.

“Bayangkan dengan kondisi stress takut kepergok petugas, dengan ongkos yang rendah tapi mampu menembus keramaian di kota besar tanpa kejadian apa-apa,” kata Elias.

Baca juga: Kasus Ayla Tabrak Moge, Berapa Harga Honda CBR1000RR Bekas?

Tapi masalahnya akan muncul kalau sudah ke luar kota, keselamatan hanya bergantung pada unsur “hafal medan”, bukan karena baca dan paham rambu-rambu. Jadi bisa dibilang mereka ini tidak pernah terdidik.

Elias menambahkan, semakin tidak terdidiknya pengemudi truk ini turut diperparah dengan adanya UU Nomor 22 Tahun 2009 Pasal 77 Ayat 3. Isi dari ayat tersebut menyatakan, bisa mendapatkan SIM melalui belajar sendiri, seakan-akan pemerintah mengabaikan permasalahan lalu lintas yang ada saat ini.

TERGULING—Truk yang mengangkut tiga ton ayam potong terguling di ruas jalan Raya Sawoo-Tumpakpelem, Desa Sawoo, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Senin (16/11/2020).KOMPAS.COM/Dokumentasi Polsek Sawoo TERGULING—Truk yang mengangkut tiga ton ayam potong terguling di ruas jalan Raya Sawoo-Tumpakpelem, Desa Sawoo, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Senin (16/11/2020).

“Sejak reglemen zaman Belanda dan tiga UU lalu lintas sampai UU nomor 14 Tahun 1992, diatur bahwa kalau mau dapat SIM, harus lebih dahulu mendapatkan pendidikan berlalu lintas, terutama teori,” ucapnya.

Dampaknya, Elias mengatakan kalau lima tahun terakhir, rata-rata korban kecelakaan di Indonesia adalah tiga sampai empat nyawa perjam. Artinya lebih dari 30.000 nyawa per tahun.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X