Gaikindo Bilang Relaksasi Tak Sekadar Dongkrak Penjualan Mobil

Kompas.com - 09/10/2020, 07:02 WIB
Sales promotion girl (SPG) berpose di samping mobil dalam pameran otomotif Indonesia International Motor Show (IIMS) 2019 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta Utara, Kamis (25/4/2019). Pameran IIMS 2019 berlangsung hingga 5 Mei 2019 mendatang. Sebanyak 36 merek roda dua dan roda empat ikut memamerkan produk terbarunya di sini. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGSales promotion girl (SPG) berpose di samping mobil dalam pameran otomotif Indonesia International Motor Show (IIMS) 2019 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta Utara, Kamis (25/4/2019). Pameran IIMS 2019 berlangsung hingga 5 Mei 2019 mendatang. Sebanyak 36 merek roda dua dan roda empat ikut memamerkan produk terbarunya di sini.
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Dampak dari relaksasi pajak nol persen untuk mobil baru yang tak kunjung ada kepastian, justru membuat sebagian besar agen pemegang merek (APM) resah.

Pasalnya, kondisi tersebut membuat banyak konsumen akhirnya balik kanan melakukan penundaan pembelian mobil. Imbas dari itu dikhawatirkan dapat membuat performa penjualan mobil kembali redup.

Menanggapi situasi yang menggantung tersebut, Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia ( Gaikindo) Kukuh Kumara mengatakan, pemerintah harus bisa memberikan kepastian yang cepat soal stimulus yang akan diberikan.

Stimulus tersebut tak hanya sekadar masalah agar bisa mendongkrak penjualan mobil secara nasional hingga akhir tahun nanti, tapi juga terkait masalah ketahanan industri yang ada di baliknya.

Baca juga: Bikin Konsumen Tunda Pembelian, Pajak Mobil Baru Nol Persen Dinantikan

"Intinya yang harus dimengerti itu sebenarnya bukan ingin menyelamatkan penjualan, tapi penjualan itu kan terkait pada gerbong-gerbong yang ditarik dari industri otomotif. Ibaratnya, industri otomotif roda empat ini adalah lokomotifnya," ucap Kukuh kepada Kompas.com, Rabu (7/10/2020).

Proses perakitan lokal Pajero Sport di pabrik Mitsubishi di Bekasi, Jawa Barat.Febri Ardani/Otomania Proses perakitan lokal Pajero Sport di pabrik Mitsubishi di Bekasi, Jawa Barat.

Lebih lanjut Kukuh menjelaskan, relaksasi sebenarnya dibutuhkan karena untuk menyelamatkan industri otomotif, bukan semata-mata hanya ingin mengejar penjualan yang memang sudah menjadi bagian ekosistemnya.

Dari data, Kukuh memaparkan dengan utilitasi produksi pabrikan otomotif yang baru sekitar 56 persen di Indonesia, kurang lebih sudah bisa menyerap 1,5 juta pekerja hingga saat ini. Apabila dioptimalkan, maka bisa menciptakan lapangan kerja yang lebih luas lagi.

Baca juga: Jangan Baper, Tanpa Stimulus Pajak Banderol Mobil Murah Tetap Mahal

Namun, dengan kondisi yang seperti sekarang ini, otomatis untuk bisa bersaing dengan negara-negara tetangga saja sudah sulit. Situasi ini harus menjadi perhatian, karena bisa menjadi barometer bagi pengusaha juga yang ingin berinvestasi di Tanah Air.

Sales promotion girl (SPG) berpose di samping mobil dalam pameran otomotif Indonesia International Motor Show (IIMS) 2019 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta Utara, Kamis (25/4/2019). Pameran IIMS 2019 berlangsung hingga 5 Mei 2019 mendatang. Sebanyak 36 merek roda dua dan roda empat ikut memamerkan produk terbarunya di sini.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Sales promotion girl (SPG) berpose di samping mobil dalam pameran otomotif Indonesia International Motor Show (IIMS) 2019 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta Utara, Kamis (25/4/2019). Pameran IIMS 2019 berlangsung hingga 5 Mei 2019 mendatang. Sebanyak 36 merek roda dua dan roda empat ikut memamerkan produk terbarunya di sini.

"Kondisi sekarang, dengan kita yang seperti ini akan sulit berkompetisi, tujuan awal industri kita untuk bersaing. Jadi kami Gaikindo ini berharap relaksasi ada keputusan yang cepat. Bila disetujui artinya sangat bagus, berapa pun juga stimulusnya nanti yang diberikan," ucap Kukuh.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X