Sempat Viral Klakson Telolet Bus, Berawal dari Tanah Suci Mekkah

Kompas.com - 18/06/2020, 16:09 WIB
Warga antusias menyaksikan lomba telolet yang digelar Paguyuban Pelaku Wisata (PPW)   Jawa Tengah di The Wujil Resort & Conventions,  Jalan Soekarno-Hatta km 25,5 Ungaran, Wujil, Bergas, Semarang, Rabu (12/7/2017). KOMPAS.com/Syahrul MunirWarga antusias menyaksikan lomba telolet yang digelar Paguyuban Pelaku Wisata (PPW) Jawa Tengah di The Wujil Resort & Conventions, Jalan Soekarno-Hatta km 25,5 Ungaran, Wujil, Bergas, Semarang, Rabu (12/7/2017).

JAKARTA, KOMPAS.comKlakson telolet pada bus antar kota antar provinsi (AKAP) sempat menjadi tren pada 2016 silam.

Sampai saat ini pun masih ada bus yang memakai klakson tersebut, biasanya dibunyikan ketika mau masuk atau keluar dari terminal.

Suara yang dikeluarkan dari telolet ini juga bermacam-macam. Biasanya seperti nada sebuah lagu yang sedang terkenal atau lagu daerah. Pada 2016, banyak orang yang menunggu di dekat terminal, meminta pengemudi untuk menyalakan telolet nya.

Lalu bagaimana sejarah tentang telolet ini? Siapa perusahaan ototbus (PO) yang pertama memakai klakson telolet di Indonesia?

Baca juga: Daftar Mobil Bekas Hatchback dan City Car, Mulai Rp 70 Jutaan

Klakson teloletliputan6.com Klakson telolet

Anggota Forum Bismania Indonesia, Dimas Raditya mengatakan, awalnya ide memasang klakson telolet pada bus di Indonesia berawal ketika pemilik PO Efisiensi pergi ke Tanah Suci, Mekkah, Aran Saudi.

“Ide awalnya ketika pemilik PO Efisiensi, Teuku Eri Rubiansah melihat bus di Arab menggunakan klakson dengan nada tersebut, yang berfungsi buat mengusir unta atau binatang di jalan,” ucap Dimas kepada Kompas.com, Kamis (18/6/2020).

Kemudian beliau membeli klakson tersebut dan memasangnya pada armada yang dimiliki. Kira-kira sebelum 2010 klakson telolet ini menjadi tren di Indonesia. Kemudian pada 2016, kembali tenar lagi dengan istilah “om telolet om”.

Baca juga: Pasar Otomotif Anjlok, Berikut Mobil Keluarga Terlaris di Mei 2020

“Kalau pas awal, jumlah terompetnya cuma tiga, lama-kelamaan semakin banyak, ada yang lima bahkan tujuh. Selain itu, semakin banyak juga nada yang bisa dikeluarkan,” kata Dimas.

Namun pada saat ini, telolet sudah tidak begitu terkenal, mulai tergantikan dengan lampu-lampu variasi. Export Manager Karoseri Laksana, Werry Yulianto mengatakan, sudah jarang bus yang minta dipasangi klakson telolet.

“Kalau sekarang nyaris tidak ada yang pasang. Terakhir pasang klakson telolet itu 2019,” kata Werry kepada Kompas.com.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X