Pengamat Transportasi Dukung Pembatasan Motor di Jalan Nasional

Kompas.com - 25/02/2020, 07:12 WIB
Kendaraan bermotor melewati garis batas berhenti/marka lalu lintas di kawasan Thamrin, Jakarta, Rabu (19/9/2018). Poldan Metro Jaya bekerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta untuk melakukan tilang elektronik atau electronic traffic law enforcement (ETLE) yang akan diuji coba pada Oktober 2018 sepanjang jalur Thamrin hingga Sudirman. MAULANA MAHARDHIKAKendaraan bermotor melewati garis batas berhenti/marka lalu lintas di kawasan Thamrin, Jakarta, Rabu (19/9/2018). Poldan Metro Jaya bekerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta untuk melakukan tilang elektronik atau electronic traffic law enforcement (ETLE) yang akan diuji coba pada Oktober 2018 sepanjang jalur Thamrin hingga Sudirman.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat transportasi Universitas Katolik Soegijapranata (Unika) Djoko Setijowarno, mendukung penuh wacana Wakil Ketua Komisi V DPR RI Nurhayati Monoarfa untuk membatasi gerak sepeda motor di jalan nasional.

Menurut dia, saat ini populasi kendaraan bermotor roda dua di Indonesia tidak terkendali sehingga turut menyumbang berbagai permasalahan.

Bahkan dalam kasus tertentu, motor erat kaitannya dengan tingkat kecelakaan lalu lintas.

"Berdasarkan statistik Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri, jumlah kecelakaan di Indonesia dalam lima tahun belakangan tidak kunjung turun. Kemudian, motor secara konsisten menyumbang kontribusi kecelakaan sampai 80 persen," katanya saat dihubungi Kompas.com, Jakarta, Senin (24/2/2020).

Baca juga: Muncul Wacana Pembatasan dan Larangan Motor di Jalan Nasional

Pengguna jalan melintas di perlintasan kereta api di wilayah Bumi Bintaro Permai, Pondok Aren, Jakarta Selatan, Minggu (23/2/2020). Tidak berfungsinya palang pintu di perlintasan kereta api sejak 2 tahun lalu mengancam keselamatan warga.KOMPAS.com/M ZAENUDDIN Pengguna jalan melintas di perlintasan kereta api di wilayah Bumi Bintaro Permai, Pondok Aren, Jakarta Selatan, Minggu (23/2/2020). Tidak berfungsinya palang pintu di perlintasan kereta api sejak 2 tahun lalu mengancam keselamatan warga.

Bila melihat data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), lanjut Djoko, penjualan motor tiap tahunnya pun tidak masuk akal.

Selama 14 tahun (2005-2019), sedikitnya ada 5 juta unit motor baru yang didistribusikan ke seluruh Indonesia.

"Padahal sebelum tahun 2005, itu hanya 2 juta sampai 3 juta saja tiap tahunnya. Jadi benar-benar tidak bisa terkendali lagi sekarang. Belum lagi, banyak program pembelian motor yang tak masuk akal seperti DP (down payment) nol persen," ucapnya.

Baca juga: Wacana Pembatasan Motor di Jalan Nasional Terus Dibahas

All New Honda BeAT 2020KOMPAS.com/Gilang All New Honda BeAT 2020

"Dampak dari pertumbuhan yang besar itu, selain potensi kecelakaan yang tambah besar, impor terhadap bahan bakar minyak (BBM) kita jadi tinggi. Belum lagi bila bicara polusi udara, jadi memang sepantasnya permasalahan ini harus diberi perhatian. Saya sangat mendukung wacana DPR RI," lanjut Djoko.

Ia pun berharap pemerintah tidak hanya membatasi operasi motor di jalan saja. Tetapi mulai menghentikan produksi motor berkapasitas mesin 100 cc.

"Permasalahan ini sulit memang diselesaikannya, harus diputus dari akar masalahnya. Maka menurut saya produksi motor kapasitas di atas 100cc secara perlahan harus dihentikan," katanya.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X