Pasar Australia Sudah Dibuka, Honda Indonesia Masih Tunggu Momentum

Kompas.com - 17/02/2020, 08:22 WIB
Ilustrasi penjualan mobil Stanly/KompasOtomotifIlustrasi penjualan mobil

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Honda Prospect Motor (HPM) selaku agen tunggal pemegang merek (ATPM) mobil Honda di Indonesia, menyatakan, tengah melakukan pertimbangan terkait dengan rencana ekspor ke Australia.

Langkah tersebut menyusul ratifikasi perjanjian Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement ( IA-CEPA) yang telah ditetapkan pekan lalu.

"Bea masuk produk dari Indonesia memang bisa sampai nol persen melalui kerjasama tersebut. Tapi selama ini ekspor kita itu berdasarkan request dari negara tujuan dengan mempertimbangkan daya saingnya Saat ini, permintaan tersebut belum ada," kata Bussiness Innovation and Sales & Marketing Director PT HPM Yusak Billy di Jakarta, belum lama ini.

Baca juga: IA-CEPA Telah Diratifikasi, Ekspor Otomotif ke Australia Terbuka Lebar

Honda CR-V saat menjajal jalan tol layang Jakarta-CikampekHPM Honda CR-V saat menjajal jalan tol layang Jakarta-Cikampek

Sembari menunggu, Billy mengaku bahwa Honda Indonesia akan terus melakukan studi pasar Australia. Sebab, di sana ada perbedaan segmentasi kendaraan yang cukup signifikan sehingga menjadi kendala tersendiri.

"Pasar di sana itu mayoritas diisi oleh mobil besar (sport utility vehicle/SUV) dan sedan. Kita memang punya CR-V dan HR-V, tapi butuh waktu karena harus disesuaikan kembali (spesifikasi dan produksinya)," ujar dia.

"Kita kan besarnya di mobil keluarga dan hatchback atau sedan kecil seperti Jazz. Sejauh ini kita sedang pelajari," ucap Billy.

Baca juga: Pasar SUV Murah Kian Ramai, Ini Cara Honda Hadapi Rival Termasuk XL7

Ekspor Honda Brio ke Filipinadok.HPM Ekspor Honda Brio ke Filipina

Sebelumnya, Menko Perekonomian Airlangga Hartato menyatakan bahwa pasar otomotif Australia memiliki potensi sebesar 1,4 juta unit per tahunnya atau setara dengan 1,1 miliar dolar Amerika Serikat (AS).

Tetapi, karena ada perbedaan pasar, produsen di dalam negeri perlu melakukan reorientasi atau penyesuaian dahulu. Ia mengharapkan kesempatan ini tidak disia-siakan begitu saja.

"Seharusnya bukan menjadi kendala. Melalui IA-CEPA, dalam lima tahun ke depan diharapkan hubungan bilateral kedua negara akan semakin kuat dan menguntungkan," katanya.

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X