Mau Diterapkan Tilang Elektronik, Pemotor di Jakarta Diklaim Mulai Tertib

Kompas.com - 28/01/2020, 15:21 WIB
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Mulai 1 Februari 2020, Ditlantas Polda Metro Jaya akan mulai memberlakukan tilang elektronik (electronic traffic law enforcement/ETLE) untuk pengendara sepeda motor. Dengan adanya aturan baru ini, diharapkan dapat menurunkan jumlah pelanggar lalu lintas di DKI Jakarta sampai 50 persen.

Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Fahri Siregar mengatakan, untuk tahap awal ada tiga sasaran penindakan, yaitu melanggar rambu lalu lintas, pelanggaran marka jalan dan tidak menggunakan helm.

Baca juga: Berani Coba-coba Akali Tilang Elektronik Pakai Pelat Palsu, Ini Risikonya

"Harapan kita sama seperti mobil (turun) 44,2 persen, berdasarkan evaluasi kita. Sebetulnya ini juga berjalannya waktu ya, data pembandingnya per kuartal. Jadi kalau harapan kami bisa sampai 50 persen ke atas," kata Fahri di Jakarta, belum lama ini.

Suasana ruang Regional Traffic Management Center (RTMC) Ditlantas Polda Jateng.KOMPAS.com/RISKA FARASONALIA Suasana ruang Regional Traffic Management Center (RTMC) Ditlantas Polda Jateng.

Fahri cukup optimistis penerapan electronic traffic law enforcement ( ETLE) pada pengendara motor ini mampu menurunkan jumlah pelanggaran. Apalagi dengan adanya pemberitahuan yang masif akan membuat takut para pelanggar.

"Biasanya kalau sudah kami serukan seperti ini mereka (pengendara motor) sudah hampir tidak melanggar. Contoh dari kemarin sudah kita serukan soal tilang ini, sampai tanggal 27 Januari 2020, pelanggar yang tidak pakai helm sudah sedikit sekali," katanya.

Baca juga: Alasan Tilang Elektronik Masih Terbatas pada Motor Pelat B

Pelanggaran Paling Besar

Suasana ruang Regional Traffic Management Center (RTMC) Ditlantas Polda Jateng.KOMPAS.com/RISKA FARASONALIA Suasana ruang Regional Traffic Management Center (RTMC) Ditlantas Polda Jateng.

Fahri mengatakan, dari tiga sasaran pelanggaran yang sudah disebutkan, jenis pelangaran marka merupakan yang berpotensi paling besar. Sebab berhubungan dengan keseharian di jalan.

"Kalau helm biasanya orang sudah konsisten, tapi kalau marka itu potensi kelalaianya besar, seperti dia sedang terburu-buru, misalkan kendaraan di depan ingin menyalip. Potensi paling besar ialah pelanggaran marka," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.