Kompas.com - 23/08/2019, 17:23 WIB
Mobil listrik BMW i3s dipamerkan saat acara Gaikindo Indonesia Internasional Auto Show (GIIAS) 2019 di Indonesia Convention Exebition (ICE) BSD, Serpong, Tangerang, Banten, Kamis (18/7/2019). BMW i3s hadir dengan motor listrik bertenaga 184 tk dengan torsi 270 Nm. Mobil baru ini dapat melesat dari diam hingga 100 kilometer per jam dalam waktu 6,9 detik. KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELIMobil listrik BMW i3s dipamerkan saat acara Gaikindo Indonesia Internasional Auto Show (GIIAS) 2019 di Indonesia Convention Exebition (ICE) BSD, Serpong, Tangerang, Banten, Kamis (18/7/2019). BMW i3s hadir dengan motor listrik bertenaga 184 tk dengan torsi 270 Nm. Mobil baru ini dapat melesat dari diam hingga 100 kilometer per jam dalam waktu 6,9 detik.
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah berupaya mempercepat era elektrifikasi di Indonesia. Keseriusan ini dibuktikan dari terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai untuk Transportasi Jalan.

Berdasarkan aturan tersebut, kendaraan bermotor listrik berbasis baterai terbagi tiga macam yakni Hybrid, Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), hingga Battery Electric Vehicle (BEV) atau yang biasa disebut listrik murni.

Diharapkan, secara bertahap kendaraan di Indonesia akan beralih ke kendaraan listrik murni karena sangat ramah lingkungan. Tapi nampaknya keniscayaan tersebut membutuhkan waktu panjang sebagaimana dikatakan Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Johannes Nangoi.

"Mobil listrik murni itu menjadi pilihan kedua atau seterusnya, bukan mobil utama untuk masyarakat Indonesia saat ini. Sebab, salah satu kekurangan kendaraan jenis ini jaraknya masih sangat pendek yakni 300-350 kilometer saja," kata Nangoi di diskusi bertajuk 'Kendaraan Listrik Sebagai Solusi Polusi Udara dan Pengurangan Penggunaan BBM' yang dihelat Kompas, Jakarta, Jumat (23/8/2019).

Baca juga: Punya Glory E3, DFSK Masih Pelajari Perpres Mobil Listrik

Sehingga, ujar Nangoi lagi, ketika mobil digunakan untuk jarak yang cukup jauh akan terkendala. Belum lagi mobil listrik murni sangat bergantung pada stasiun pengisian listrik, tak seperti mobil hibrida maupun PHEV.

Lalu, biaya produksi mobil listrik murni yang sangat mahal dibanding jenis mobil lainnya membuat harga jual mobil tersebut sangat tinggi. Dibandingkan mobil konvensional atau berbahan bakar minyak (internal combustion engine/ICE), biayanya kira-kira lebih mahal 87 persen.

"Perbedaan biaya mobil jenis ICE dengan hibrida itu sekitar 15 persen, kalau PHEV sekitar 60 persen. Maka, harga jual mobil listrik murni sangat mahal," ujar Nangoi.

"Sehingga, berdasarkan survei kami, mobil listrik murni itu akan menyasar konsumen yang sedang mencari mobil ke-2 atau ke-3. Bukan mobil utama untuk menemani mereka berkegiatan. Orang yang baru bisa beli mobil, tidak akan tertarik membeli mobil listrik murni," katanya lagi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.