Meremajakan Mobil Diesel dengan B50, Seberapa Tepat?

Kompas.com - 14/08/2019, 08:12 WIB
Ilustrasi biodiesel Dok Kontan.co.idIlustrasi biodiesel

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Toyota Astra Motor (TAM) menilai bahwa langkah pemerintah untuk memperluas pemanfaatan bahan nabati di bahan bakar minyak jenis solar adalah salah satu upaya meremajakan kendaraan diesel. Pertanyaannya, seberapa tepat cara tersebut?

Pemerintah belakangan ini nampak memperhatikan betul gejolak industri otomotif di dalam negeri. Berbagai kebijakan baru bermunculan seperti tentang elektrifikasi, standar emisi gas buang kendaraan (euro IV), sampai memperluas program B20 (pencampuran biodiesel 20 persen dengan 80 persen bahan bakar minyak jenis solar).

Presiden Joko Widodo ( Jokowi), menyatakan, tahun depan (2020) mobil diesel harus segera 'melompat' untuk bisa menggunakan B30. Secara bertahap, hal ini akan terus dikembangkan dan ditingkatkan hingga B50 bisa diterapkan di akhir tahun 2020.

Baca juga: Akhir Tahun Depan, Jokowi Minta Penerapan Solar B50

Executive General Manager Toyota Astra Motor, Fransiscus Soerjopranoto beranggapan bahwa langkah tersebut sangat baik karena pada akhirnya bertujuan untuk mendorong penggunaan kendaraan ramah lingkungan dan melepas diri dari ketergantungan bahan bakar fosil.

"Berdasarkan skema, nantinya mobil konvensional akan menurun (permintaannya) sedangkan mobil rendah emisi dan ramah lingkungan (LCEV, termasuk elektrifikasi) bergerak sebaliknya. Jadi memang dibutuhkan langkah-langkah agar kendaraan saat ini diremajakan," kata Soerjo, sapaan akrabnya, kepada Kompas.com, Jakarta, Selasa (13/8/2019).

Mobil berbahan bakar bensin akan diremajakan lewat standar emisi gas buang yang lebih ketat yakni euro IV dan elektrifikasi yang meliputi kendaraan listrik penuh, hibrida, sampai plug-in hybrid.

Baca juga: Apa Itu B20 dan B100 yang Disebut-sebut dalam Debat Capres Kedua?

"Di samping itu, mobil diesel terus di dorong supaya bisa mengadopsi B20, B30, B50, hingga seterusnya supaya Indonesia tidak lagi tergantung pada bahan bakar fosil. Hasilnya, trade balance kita bisa positif karena impor BBM berkurang. Maka, saya rasa ini adalah langkah baik dan harus didukung," ujar Soerjo lagi.

Hanya saja, lanjut dia, tidak ada kebijakan baru yang langsung berbuah manis. Pun dengan perluasan program B20 ke B50 yang hanya dalam jangka waktu setahun.

Logo Toyota yang terpasang di bagian depan salah satu produknya.Stanly/KompasOtomotif Logo Toyota yang terpasang di bagian depan salah satu produknya.

Persiapan Toyota

Tidak dapat ditampik bahwa akan ada gejolak yang cukup signifikan bagi para pabrikan roda empat supaya bisa memenuhi harapan pemerintah untuk menerapkan B50 segera.

Terlebih hingga saat ini, penggunaan B20 masih memiliki masalah yang sukar untuk diselesaikan yaitu adanya gel pada tangki bahan bakar ketika mobil cukup lama tidak digunakan dan berada di cuaca yang dingin.

Baca juga: Potensi Masalah Penggunaan Solar B50 di Indonesia

"Penyesuaian teknologi tentunya ada supaya kita bisa mengadopsi program tersebut secara optimal. Pasti, ke depan akan ada diskusi antara pemerintah dengan asosiasi, dalam hal ini Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia), untuk mencari titik temu antara program pemerintah tersebut dengan produsen otomotif," kata Soerjo.

"Contoh saja Euro IV. Ketika dibicarakan, tidak semerta-merta langsung serempak dalam satu tahun harus diterapkan. Tetapi ada beberapa step, di mana satu tahun untuk kendaraan berbensin dan tiga tahun untuk mobil diesel," lanjut dia lagi.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X