Efek Domino Kerugian Tak Mengganti Busi Secara Berkala

Kompas.com - 27/11/2018, 13:02 WIB
Pemeriksaan busi kendaraan secara berkala Otomania/Setyo AdiPemeriksaan busi kendaraan secara berkala
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Busi merupakan salah satu komponen penting pada kendaraan baik motor maupun mobil. Secara fungsi, busi berperan untuk menghasilkan pericikan listrik guna menghasilkan pembakaran yang sempurna bagi mesin kendaraan.

Namun sampai saat ini rupanya masih banyak pemilik kendaraan yang tidak mengerti bila busi masuk dalam salah satu komponen fast moving. Artinya busi memiliki masa pakai yang harus diganti secara berkala.

Lantas, apa dampaknya bila membiarkan busi terus menerus digunakan. Menjawab hal ini, Technical Support PT NGK Busi Indonesia Diko Oktaviano, menjelaskan ada beberapa fase yang merugikan saat pemilik kendaraan membiarkan busi terus menerus digunakan.

Baca juga: Enam Cara Membedakan Busi Asli dan Palsu

"Pertama elektroda busi akan mengalami keausan, dari hal ini akan menimbulkan efek domino lainnya. Mulai dari kebocoran busi yang dampaknya membuat torsi menurun, lalu akselerasi kendaraan yang ikut turun, dan berujung pada konsumsi bahan bakar yang buruk sehingga terjadi pemborosan," ucap Diko saat berbincang dengan Kompas.com, Selasa (27/11/2018).

Tidak sampai di situ saja, akibat tidak mengganti busi secara berkala juga akan menimbulkan efek kerugian berantai. Komponen-komponen sebelum busi yang terkait kelistrikan bisa mengalami kerusakan permanen, mulai dari kabel busi, koil, sampai aki kendaraan.

Kerusakan berantai akibat tak mengganti busistanly Kerusakan berantai akibat tak mengganti busi

Diko menjelaskan bila busi merupakan muara dari sistem pengapian, sebelum busi bekerja ada beberapa komponen kelistrikan lainnya yang ikut berperan. Bila diibaratkan busi itu bekerja dengan menerima hasil dari komponen sebelumnya.

Baca juga: Pakai Busi Racing di Mesin Standar, Mubazir

"Busi itu ujungnya sistem pengapian, jadi hasil akhir lah. Contoh, busi butuh tegangan 1 volt dengan jarak gap elektroda 0,8 mm, saat busi aus otomatis jarak gap akan semakin besar, dampaknya tegangan busi juga akan membesar yang membuat busi akan meminta daya lebih besar dari komponen sebelum-sebelumnya," ucap Diko.

"Hasil akhir dari itu semua akan berdampak pada kerusakan permanen pada komponen kelistrikan. Karena busi meminta daya lebih, dan biasanya yang awal rusak itu tutup busi, lalu menjalar ke koil karena koil diminta terus-menerus menyalurkan tenaga yang tidak sesuai, akumulasinya bisa sampai ke aki," ucap Diko

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X