Latar Belakang Toyota Kencangkan Budaya Industri

Kompas.com - 25/09/2018, 13:05 WIB
Produksi All-New Innova di pabrik Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang I, Jawa Barat. Febri Ardani/KompasOtomotifProduksi All-New Innova di pabrik Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang I, Jawa Barat.
Penulis Stanly Ravel
|


YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Program Kelas Budaya Industri menjadi salah satu komitmen Toyota Indonesia menyiapkan tenaga siap pakai yang ditumbuhkan dari sekolah kejuruan.

Fokus utamanya adalah penanaman mentalitas kepada siswa SMK yang telah terpilih menjadi pilot project program ini.

Ketua Yayasan Toyota dan Astra (YTA) Mintarjo Darmali menjelaskan, bila pencetusan program kelas budaya industri dilatarbelakangi dari data pengangguran tertinggi di Indonesia, ternyata paling banyak diduduki oleh lulusan sekolah kejuruan.

"Bila kita lihat dari data lulusan SMK menempati posisi tertinggi pengangguran. Ini hal yang ironis sekali, padahal lulusan kejuruan itu diharapkan bisa langsung diserap dunia kerja. Setelah kita cari akar masalahnya, ternyata bukan soal kepintaran, tapi lebih ke masalah siswa SMK ini tidak memiliki budaya kerja, atau kurang lah," ucap Mintarjo kepada Kompas.com di Yogyakarta, Senin (24/9/2018).

Baca juga: Mekanik Toyota Indonesia Berprestasi di ASEAN

Mintarjo menjelaskan bila selama ini kurikulum atau pembelajaran di sekolah kejuruan lebih menekankan pada sisi praktik, namun kurang dari sisi mentalitas atau budaya bekerja. Karena itu, meski siswanya handal dalam banyak keterampilan namun tidak langsung siap diserap dunia industri.

Contoh untuk masalah keselamatan, masih banyak siswa SMK yang tidak memperhatikan bagaimana bekerja yang aman. Lalu yang tak kalah penting lagi soal disiplin waktu kerja yang masih sangat kurang.

Toyota Indonesia resmikan kelas industridi SMKN 1 PurworejoSTANLY RAVEL Toyota Indonesia resmikan kelas industridi SMKN 1 Purworejo

"Mengajarkan mereka kerja pakai sepatu agar safety aja itu ternyata susah, butuh waktu yang panjang untuk membangun kebiasaan itu. Ibarat lain, seperti orang memasang seatbelt ketika berkendara, bila diperhatikan masih lebih banyak menggunakan seatbelt karena takut ditilang ketimbang memikirkan dampak tidak menggunakannya," ucap Mintarjo.

Melalui program tersebut, Toyota Indonesia ingin menyentuh lebih dalam ke SMK, karena bicara mental bukan hanya mengubah pola pikir tapi juga kebiasaan buruk yang harus ditinggalkan. Pada uraian pokoknya, ada beberapa prinsip yang ditekankan.

Baca juga: Toyota Indonesia Tularkan Budaya Industri ke Sekolah


Mulai dari 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin), keselamatan kerja (duga-bahaya), kerjasama kelompok, orientasi pada kualitas proses dan hasil kerja, kaizen atau perbaikan/penyempurnaan secara terus menerus, dan pemecahan masalah secara sistematis.

"Karena itu saya bilang program ini akan berjalan lama, tidak seperti kita memberikan beasiswa atau sumbang alat peraga yang habis diberikan tidak tahu kemana arahnya. Merubah kebiasaan itu tidak bisa langsung, harus berlahan. Sebelum murid, kita juga sudah memberikan training guru-gurunya lebih dulu," ujar Mintarjo.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.