Banyak Genangan, Berat, Biar SUV Saja... - Kompas.com
BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Suzuki

Banyak Genangan, Berat, Biar SUV Saja...

Kompas.com - 14/03/2018, 10:00 WIB
Genangan air di sejumlah ruas jalan di Jalan Sudirman, Selasa (30/8/2016)Kompas.com/David Oliver Purba Genangan air di sejumlah ruas jalan di Jalan Sudirman, Selasa (30/8/2016)


KOMPAS.com - Mendengus atau merutuk, mana saja mungkin dipilih saat tiba-tiba hujan deras membuahkan genangan sepanjang perjalanan, padahal berbagi jalan saja saat hari terang sudah sebegitu sulit.
 
Bukan karena tidak punya rasa syukur. Namun, hujan yang menyisakan genangan panjang bisa menjadi "horor" bagi pengendara. Pertama, entah seberapa dalamnya. Kedua, lubang-lubangnya dengan tenang bersembunyi di balik permukaan airnya yang rata.
 
Baca: Kenapa Jalan Lebih Mudah Berlubang Saat Musim Hujan? Ini Penjelasannya
 
“Di beberapa tempat seperti Jabodetabek terjadi hujan dengan intensitas ekstrem, mencapai 150 milimeter,” ujar Dwikorita Karnawati, Kepala Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
 
Baca: Prediksi BMKG, Hujan Masih Landa Indonesia hingga Maret 2018
 
Perlu kendaraan militer untuk menembusnya, barangkali, jika kondisi ekstrem semacam ini terjadi berlarut-larut.
 
Hiperbol semacam itu mudah saja muncul di benak, sekalipun memang pada awalnya dari situlah lahir kendaraan kota yang kini sering kita sebut SUV atau sport utility vehicle, istilah yang menurut kamus Merriam-Webster mulai populer tahun 1969.
 
"Model SUV pada era awal adalah turunan langsung dari mobil angkut hingga kendaraan militer kelas ringan," tulis David Doyle dalam bukunya, Standard Catalog of U.S. Military Vehicles.
 
Yang David Doyle bicarakan sebenarnya bukan mobil-mobil tahun 1969, melainkan kendaraan tahun 1940-an.

Kendaraan itu adalah truk dengan sebutan ukuran tiga perempat ton (biasanya berbobot 1,5 ton), tetapi dikonversi layaknya station wagon.
 
Hasilnya adalah dua alam yang digabung jadi satu. Dengan begitu, pengendara bisa percaya diri ke mana-mana, apa pun medannya, tetapi posisi duduknya ala mobil keluarga.

Rupanya kombinasi-kombinasi semacam ini bermunculan untuk menjawab kebutuhan yang berbeda-beda setiap masa.  
 
"Pada akhirnya, yang dinginkan orang-orang adalah mobil harian, bukan mobil segala medan tetapi benefit-nya seperti itu. Bisa nyaman di jalan, tetapi fleksibel, sekaligus banyak kegunaan," kata Brinley, narasumber The Atlantic.com dalam "How The Crossover Conquered Americas Automobile Market".

Suzuki luncurkan Ignis Sport EditionGhulam Nayazri/Kompas.com Suzuki luncurkan Ignis Sport Edition

The Atlantic.com merangkum bahwa pada tahun 1980-an, minibus merupakan sesuatu yang populer karena kebutuhan daya angkut tetapi juga kompak.

Lalu di tahun 1990-an, konsep SUV pun makin matang. Lantas, kini kita punya hasil persilangan, crossover. Salah satunya adalah urban SUV. Kombinasi mobil kota, aspek ramah kantong, dan rasa percaya diri dari jenis kendaraan SUV.
 
Kalau di Indonesia, contohnya adalah Suzuki Ignis Sport Edition by Suzuki Sport, yang bahkan sesuai namanya memasukkan pula unsur sport. Rasa percaya diri dari Ignis dibangun dari bentuknya yang kekar termasuk di area sepatbor, di samping jarak bodi ke tanah setinggi 180 milimeter.

Kembali lagi, semuanya demi memenuhi kebutuhan terkini, dan rupanya itu pula yang menjadi dasar mengapa manusia punya hasrat untuk mengombinasikan segala hal menjadi satu.
 
“Secara fitrahnya, produk didesain untuk manusia. Kami para desainer coba memecahkan masalah dan menciptakan sesuatu yang makin mudah dipahami dan digunakan,” ujar Muditha Batagoda, seorang desainer produk, dalam "Psychology and Product Design" di Uxplanet.org.
 
Jadi, jika jalan di perkotaan yang padat masih sarat dengan genangan, jangan mengeluh berat-berat... biar itu urusan urban SUV saja....


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Komentar