Belajar dari Kecelakaan Beruntun Lamborghini di Tol - Kompas.com

Belajar dari Kecelakaan Beruntun Lamborghini di Tol

Kompas.com - 10/03/2018, 07:22 WIB
Sistem pengereman otomatis saat darurat jadi fitur yang diharuskan di Amerikacarbuzz.com Sistem pengereman otomatis saat darurat jadi fitur yang diharuskan di Amerika

Jakarta, KOMPAS.com - Rombongan komunitas Lamborghini terlibat kecelakaan beruntun di Jalan Tol Cipali Km 88+200 jalur A (Cikopo-Palimanan, Kampung Cibeunying, Subang), Jumat (9/3/2018) pukul 12.00 WIB. Peristiwa itu terjadi karena ada perbaikan jalan sehingga mengalami penyempitan pada lajur lambat.

Tabrakan beruntun itu terjadi saat Lexus melaju di lanjur cepat, karena ada penyempitan lajur maka menabrak bagian belakang Honda HR-V, dan langsung menyeruduk mobil patwal. Mobil dinas polisi itu (Denwal Korlantas) terdorong sampai akhirnya menabrak bagian belakang Lamborghini B 1 DIS 1.

Belajar dari kasus itu, menurut Pendiri dan Instruktur dari Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu, ketika mengalami hal serupa, sopir perlu mengambil sikap, misal mengemudikan ke arah kiri atau kanan jalan, namun perlu dipastikan dulu kondisi di sekitar aman atau tidak.

Misal, jika terjadi ancaman seperti pecah ban atau seperti peristiwa di atas, maka pengemudi harus langsung melihat kondisi yang tidak bisa terlihat, misal mengecek keadaan di belakang atau samping melalui kaca spion yang ada di kiri dan kanan.

Baca juga: Terlibat atau Lihat Kecelakaan, Ini Aturannya Sesuai Undang-Undang

"Setelah melihat spion, jadi kita bisa melihat situasi di sekitar apakah aman untuk mengambil tindakan ke kiri atau ke kanan, jangan langsung berhenti begitu saja itu jelas berbahaya," ujar Jusri saat dihubungi KOMPAS.com, Jumat (9/3/2018) malam.

Pindah jalur ke kiri atau ke kanan, kata Jusri juga tidak boleh sembarangan. Pengemudi harus meningkatkan level kecepatan agar tidak mengganggu atau membahayakan kendaraan di sekitarnya.

"Begitu juga kalau memang harus mengerem, sebaiknya mengerem itu jangan dalam kondisi panik. Mobil harus dalam kendali sopir, karena kalau tidak justru membahayakan buat diri sendiri dan orang lain di sekitar," kata Jusri.

Belum lagi, ketika dalam posisi konvoi apalagi dengan kecepatan tinggi di jalan Tol maka seluruh pengemudi harus selalu berkonsentrasi tinggi. Salah sedikit, fatal akibatnya dan bisa terjadi kecelakaan beruntun seperti itu.

"Lengah satu detik saja kalau mobil kecepatan 100 kpj, sopir yang ada di mobil belakang akan kehilangan jarak dengan mobil depan sekitar 28 meter. Jadi kalau seperti itu sopir juga jangan panik, dan selalu fokus, jangan sampai lengah satu detik pun, kalau lengah dampaknya seperti itu terjadi kecelakaan beruntun," ujar Jusri.


Komentar

Terkini Lainnya

Close Ads X