Bikin Motor Bercorak Batik Murah tapi Susah - Kompas.com

Bikin Motor Bercorak Batik Murah tapi Susah

Kompas.com - 18/12/2017, 20:02 WIB
Yamaha RX King batik dijual Rp 22 Juta.Fachri Fachrudin Yamaha RX King batik dijual Rp 22 Juta.

Jakarta, KompasOtomotif – Ragam modifikasi dapat dilakukan pada kendaraan roda dua. Semuanya itu tergantung keinginan dan dana yang dimiliki si pemilik motor. Tidak selalu modifikasi harus mengeluarkan banyak dana dengan hasil yang sedap dipandang mata.

Seperti yang dilakukan Hendry, warga Kampung Rawa Tengah, Pangkalan Asem, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Modifikasi yang dilakukannya terbilang murah namun meriah. Ia menggambar seluruh bagian motor penuh dengan corak batik. Salah satunya Yamaha RX King tahun 2002 yang pernah jadi miliknya.

“Paling sekitar Rp 1 jutaan juga sudah cukup, cuma pengerjaannya saja capek, karena lama dan susah,” kata Hendry saat dihubungi, Sabtu (16/12/2017).

Baca juga : Butuh Modal Berapa untuk Modifikasi Motor?

Batik tersebut tidak digambar dengan menggunakan teknik air brush atau pengecatan dengan cara dicelup. Tetapi, menempelkan bahan kain batik ke beberapa bagian motor yang dapat terlihat langsung oleh mata. Proses inilah yang menguras tenaga dan juga waktu. Untuk satu unit motor saja bisa memakan waktu selama 30 hari.

Yamaha RX King batik dijual Rp 22 Juta.Fachri Fachrudin Yamaha RX King batik dijual Rp 22 Juta.
Pada proses finishing, bagian motor yang sudah dibatik dilapisi pernis agar tampak mengkilat dan licin. Hendry mengatakan sudah 4 motor yang berhasil dimodifikasi. Namun dua unit sudah terjual ke orang lain.

“Sekarang tinggal NMAX dan Scoopy. Yamaha RX King dan Fino sudah dijual,” kata Hendry.

Baca juga : Diubah Seperti Ini, Harga RX King jadi Tinggi

Alasan Hendry memilih batik sebagai tema modfikasi bukan hanya karena dirinya suka dengan batik, tetapi lantaran kebanyakan modifikator mengubahan tampilan motor dengan tema gambar atau stripping. Selain itu, tema batik juga menonjolkan sisi kecintaannya pada Indonesia.

“Kalau gambar-gambar biasa sudah banyak, sudah bosan lihatnya. Kalau batik ini lebih Indonesia juga,” kata Hendry.


EditorAzwar Ferdian
Komentar
Close Ads X