Awalnya Jualan Naik Sepeda, Kini Punya Dua Bengkel Modifikasi

Kompas.com - 02/11/2015, 07:02 WIB
Toko ARM yang berlokasi di Jalan Dr. Radjiman Widyodiningrat Jatinegara Cakung Ghulam Muhammad NayazriToko ARM yang berlokasi di Jalan Dr. Radjiman Widyodiningrat Jatinegara Cakung
|
EditorAgung Kurniawan

Jakarta, KompasOtomotif – Berakit-rakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Peribahasa itulah yang untuk cocok menggambarkan kisah nyata Tukijan, sang pemilik bengkel modifikasi sepeda motor ARM (Angga Racing Mobiek) Motor. Sebelum memiliki dua toko dan bengkel modifikasi seperti sekarang ini, banyak tantangan dan rintangan dihadapinya.

Pria asal Yogyakarta ini bercerita panjang lebar kepada KompasOtomotif. Pada awal 2000, ia mulai membuka usaha, yakni menjual spion, hingga pelat nomor sepeda motor. Saat itu, karena memiliki modal Rp 1,5 juta, Tukijan pun berjualan di pinggir jalan kawasan industri Pulo Gadung, Jakarta Timur, menggunakan sepeda.

“Saya bekerja di pabrik dan pulang pukul 16.30, saya masih punya waktu sampai jam 18.00 dan saya manfaatkan dengan berjualan aksesori sepeda motor. Saat itu masih kecil-kecilan,” ujar Tukijan saat ditemui KompasOtomotif di bengkelnya yang berada di jalan Krt Radjiman Widyioningrat, Jatinegara Cakung, Jakarta Timur.

Saat itu, Tukijan melihat ada peluang berjualan aksesori sepeda motor. Seiring berjalannya waktu, pembelinya semakin banyak, karena saat itu waktunya bertepatan dengan orang jam pulang pabrik. Keuntungannya itu menurut Tukijan tidak dibuat untuk makan sehar-hari, tapi ia putarkan lagi ke barang sehingga aksesori yang dijualnya itu makin banyak.

Barang dan pembeli samakin banyak, maka saat itu ia memutuskan untuk mencari anak buah dan dari sepeda berubah ke gerobak. “Saya dibantu oleh satu orang dari kampung, ia tugasnya hanya merapihkan barang saja, nanti setelah saya pulang kerja, saya juga tetap membantunya,” katanya.

Ghulam Muhammad Nayazri Bu Ati pemilik ARM Motor, bersama dengan beberapa skutik halis karya bengkel miliknya

Lambat laun, keuntungannya semakin besar dan Tukijan pun memberanikan diri membeli mobil bak terbuka. Mobil tersebut dibeli secara kredit dan digunakan untuk berjualan aksesori di tempat yang sama. Karyawannya pun bertambah menjadi dua orang.

Selama berjualan, banyak rintangan yang harus dihadapi, jika musim hujan maka tempat di mana ia berjualan terkena banjir dan saat kemarau terik sinar mataharinya begitu menyengat. Tukijan tidak pantang menyerah, sampai akhirnya mendapatkan tempat lebih layak.

“Saya pindah ke gubuk yang tempatnya dekat dengan pasar tapi paling ujung. Tempatnya sama di kawasan juga, tapi gubuk yang masih di bongkar pasang,” ucapnya.

Keuletan Tukijan berbuah hasil, sampai di 2010 ia memberanikan diri untuk menyuruh sang istri tercinta berhenti bekerja dan menjaga tokonya itu. Saat itu, pria berkumis tebal ini juga suda merambah ke arah modifikasi bodi sepeda motor.

Ghulam/Dwi Paket yang dijual di toko ARM Motor

“Saya berkata kepada istri, jika niat kita benar maka pasti ada jalannya dan akhirnya toko itu dipegang oleh istri dan ternyata semakin maju,” ujarnya.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.