Avanzanation Journey 2014 [Tengah]

Kisah Heroik Insiden Hotel Yamato

Kompas.com - 25/02/2014, 12:18 WIB
|
EditorAris F Harvenda

Surabaya, KompasOtomotif — Avanzanation Journey 2014 wilayah tengah masih mengeksplorasi budaya dan sejarah di Surabaya, Minggu (23/2/2014). Kali ini rombongan mengarah ke salah satu tempat paling bersejarah bagi Surabaya, dan lebih jauh bagi Indonesia, yakni Hotel Majapahit. Letaknya di jantung Kota Pahlawan tersebut, tepatnya di Jalan Tunjungan 65.

Tim Avanzanation Journey bertandang ke tempat yang menjadi bagian dari sejarah Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Hotel tersebut didirikan kali pertama oleh Sarkies Bersaudara, kelompok konglomerat hotel asal Armenia, tahun 1910. Konon, pada masa kejayaannya, ini adalah tempat penginapan termewah di Surabaya, yang bahkan kala itu pernah diinapi oleh Charlie Chaplin dan Paulette Goddard. Nama Oranje merujuk pada keluarga bangsawan Belanda yang berkuasa di Surabaya kala itu. Nama ini kemudian diubah menjadi Hotel Yamato pada 1942, setelah Jepang mulai berkuasa di Indonesia.

Hotel Yamato
Di tempat ini terjadi peristiwa besar yang disebut dengan "Insiden Hotel Yamato" pada 19 September 1945. Saat itu, terjadi peristiwa perobekan bendera Belanda (merah-putih-biru) menjadi merah-putih (bendera Indonesia). Jadi, setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan, ada maklumat dari Presiden Soekarno untuk mengibarkan bendera negara di semua wilayah Indonesia, 31 Agustus 1945.

Maklumat ini memicu kemarahan Belanda di bawah seseorang bernama Ploegman. Ia mau menegaskan bahwa Indonesia masih di bawah kendali mereka. Caranya dengan mengibarkan bendera Belanda di tiang utara, tingkat teratas Hotel Yamato.

Keesokannya, para pemuda Surabaya melihat dan menjadi marah karena mereka menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia. Mereka menganggap Belanda mau berkuasa kembali di Indonesia. Mereka juga menganggap hal tersebut melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya.

Kronologi
Akhirnya, Sudirman, pejuang dan diplomat yang merupakan wakil pemerintahan Indonesia, masuk ke hotel dengan dikawal Sidik dan Hariyono. Mereka mencoba berunding untuk meminta Ploegman menurunkan bendera Belanda. Namun, Ploegman menolak, dan tidak mengakui kedaulatan Indonesia.

Perundingan semakin memanas, sampai akhirnya Ploegman mengeluarkan pistol. Hal tersebut memicu perkelahian dalam ruang perundingan. Ploegman tewas dicekik Sidik, yang kemudian juga terbunuh oleh tentara Belanda yang bersiaga. Sementara itu, Sudirman dan Hariyono melarikan diri ke luar Hotel Yamato.

Di luar hotel, para pemuda, yang mengetahui bahwa perundingan tidak berjalan lancar, langsung mendobrak masuk, dan terjadilah perkelahian di lobi hotel. Sebagian pemuda berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda.

Hariyono, yang semula bersama Sudirman, kembali ke dalam hotel dan ikut memanjat tiang bendera bersama Kusno Wibowo. Mereka kemudian berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya kembali ke puncak tiang.

10 November
Tentara Inggris yang tergabung dalam Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI), atas keputusan Blok Sekutu, ditugaskan untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan tawanan perang yang ditahan, dan memulangkan mereka ke negaranya. Namun, AFNEI ternyata juga punya misi mengembalikan Indonesia ke tangan Belanda. Mereka akan membuat Indonesia kembali menjadi negeri jajahan Hindia Belanda, melalui organisasi Netherlands Indies Civil Administration (NICA).

Halaman:
Baca tentang


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X