Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jangan Campur Nitrogen dengan Udara Biasa pada Ban, Ini Dampaknya

Kompas.com - 14/04/2023, 09:12 WIB
Daafa Alhaqqy Muhammad,
Aditya Maulana

Tim Redaksi

5

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengguna harus selalu cermat dan paham dengan anjuran perawatan komponen mobil. Jika perawatan selalu benar, komponen-komponen tersebut bisa memiliki umur pemakaian panjang dan keselamatan berkendara lebih terjamin.

Salah satu komponen mobil yang kerap kali keliru dalam perwatannya yakni ban. Kekeliruan ini terkait isian yang digunakan, di mana pengguna kadang lupa dan tidak sengaja mencampur udara dengan gas nitrogen saat mengisi ban.

Juni Siswanto, Technical Leader Auto2000 Ahmad Yani menjelaskan, kendala ini kerap dijumpai saat mudik dan biasanya disebabkan karena kelupaan pengemudi.

“Misalnya sebelum berangkat mudik, si pengemudi mengisi angin dengan nitrogen. Selang beberapa waktu ketika ban mulai kurang angin, dia isi lagi yang baru tapi bukan dengan nitrogen, tapi angin biasa,” ujarnya kepada Kompas.com, Kamis (13/4/2023).

Baca juga: Ini Tekanan Udara Ban yang Tepat Saat Mobil Dipakai Mudik

Dia menjelaskan, mencampur udara dengan nitrogen untuk isian ban sangatlah tidak disarankan. Dua gas tersebut memiliki titik muai suhu yang berbeda dan apabila dicampur, suhu dalam ban menjadi tidak stabil.

“Karena suhu enggak stabil, ada risiko keselamatan juga. Ban bisa tiba-tiba pecah atau bahkan meledak,” kata dia.

Hal serupa juga diungkapkan Ekowati, Technical Leader Auto2000 Kalimalang. Dia menjelaskan, ban yang isiannya tercampur dan dugunakan jalan untuk waktu yang lama bisa mengalami kerusakan.

Eko menceritakan kasus yang pernah dia tangani, di mana salah satu pemudik yang mampir di bengkel siaga Toyota mengalami masalah pada ban.

Baca juga: Dilarang Bonceng Tiga dan Bawa Barang Berlebih, ETLE Pantau Pemudik Motor

Masalah itu berupa muncul banyak benjolan seperti bengkak pada bagian sidewall alias sisi ban. Setelah ditelusuri, ternyata pemudik tidak sengaja mengisi angin biasa pada ban yang masih memiliki isian nitrogen.

“Jadinya ban benjol karena ada separasi lapisan di bagian dalam. Untunglah cepat ditangani sebelum terjadi kerusakan yang lebih parah,” kata dia.

Eku menyarankan pengemudi untuk selalu cermat saat hendak mengisi ban. Jika ban kempis dan akan diisi ulang, sebaiknya sisa udara dibuang. Jangan sampai nitrogen dan udara biasa bercampur di bagian dalam ban.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

5
Komentar
mohon bisa tolong diluruskan, pencampuran nitrogen dengan angin biasa tidak masalah, yanh terjadi adalah angin nitrogennya menjadi angin biasa, perbedaan suhu memang ada tapi tidak ada pengaruhnya sampai ban tiba2 meledak dikarenakan pencampuran angin tersebut..
Baca tentang


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kapal Selam Wisata Tenggelam di Laut Merah, 6 Orang Tewas
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi Akun
Proteksi akunmu dari aktivitas yang tidak kamu lakukan.
199920002001200220032004200520062007200820092010
Data akan digunakan untuk tujuan verifikasi sesuai Kebijakan Data Pribadi KG Media.
Verifikasi Akun Berhasil
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau