Sabtu, 26 Juli 2014

Otomotif


Pilih BBG atau Vi-Gas? (Bagian 1)

Rabu, 18 Januari 2012 | 17:06 WIB
Dibaca:   Komentar:
|
Share:
  • Sumber : KompasOtomotif | Author : Zulkifli BJ

    Penggunaan BBG atau CNG pada bus

  • Sumber : KompasOtomotif | Author : Zulkifli BJ

    Penggunaan Vi-Gas (elpiji) pada mobil penumpang

KompasOtomotif – Saat ini topik yang cukup ramai dibicara di dunia otomotif adalah kebijakan pemerintah untuk mengalihkan pengguna premium ke gas. Untuk pindah ke gas, konsumen atau pemilik mobil ditawarkan dua pilihan. 

Pertama adalah Liquified Gas for Vehicle (LGV) atau sebenarnya lebih dikenal dengan nama elpiji yang sudah digunakan di rumah tangga. Khusus untuk mobil, elpiji yang dipasarkan Pertamina dinamakan Vi-Gas. Harganya kini Rp 5.600 liter setara premium (lsp).

Elpiji dari singkatan LPG (Liquified Petroleum Gas) adalah minyak gas yang dicairkan. Untuk dibakar, gas ini harus menguap atau diuapkan.
Kedua adalah bahan bakar gas (BBG), sebutan internasionalnya Compressed Natural Gas (CNG), kini dijual dengan Rp 3.100 lsp. Agar bisa disimpan dalam jumlah banyak, gas harus dimampatkan. Akibatnya, tekanannya di dalam tabung penyimpanan sangat tinggi.  

Pemerintah lebih cenderung mengarahkan pemilik kendaraan di Indonesia menggunakan BBG ketimbang Vi-Gas. Pasalnya, cadangan gas ini sangat besar di tanah air, sementara elpiji, impornya terus meningkat karena juga digunakan di rumah tangga.

Insentif
Sebenarnya, rencana pemerintah untuk memasyarakatkan pengunaan BBG sudah berkobar sejak awal 1980-an. Namun perkembangannya tidak sesuai dengan harapan. Konsumen susah mendapatkan stasiun pengisian dan itu terjadi sampai sekarang! Tepatnya, infrastruktur untuk memperoleh BBG belum siap!

Faktor lain, dorongan pemerintah agar masyarakat  menggunakan BBG masih kurang. “Seharusnya, pemerintah memberikan insentif  bagi mereka yang mau menggunakan BBG. Atau memberikan penalti bila mereka tidak mau,” jelas Joko Trisanyoto, Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM) dalam sebuah percakapan dengan KompasOtomotif.

Dicontohkan, demi keselamatan, pada 1970-an, pemerintah Amerika Serikat memberi insentif kepada produsen mobil yang memasang “high stop lamp” sebagaian lampu tambahan. “Ternyata sekarang menjadi trend,”tambahnya.

Selain konsumen, pemerintah juga harus memberikan insentif kepada produsen yang bersedia memasang kit tersebut pada mobil baru. Dengan demikian, konsumen akan memperoleh jaminan atau garansi dari pabrik. Bahkan, pemerintah bisa mencontoh kebijakan pemerintah di India, yaitu memberikan insentif (pengurangan) pajak kepada pemilik mobil ber-BBG.

Hal tersebut perlu dilakukan karena untuk menggunakan BBG atau Vi-Gas, konsumen harus mengeluarkan biaya ekstra untuk pemasangan kit konversi. Juga mengorbankan sebagian ruangan di dalam mobil untuk tabung BBG dan elpiji. Bobot mobil juga akan bertambah karena tabungnya berat, terutama BBG. Mereka juga bisa kehilangan garansi, khusus bagi pemilik mobil baru yang melakukan modifikasi. 

Sosialisasi keselamatan BBG (juga elpiji) harus dilakukan lebih gencar. Pasalnya, beberapa kecelakaan pada mobil ber-BBG, membuat sebagian konsumen khawatir tentang keselamatan.

Jadi agar konversi ke BBG atau Vi-Gas sukses, tidak cukup dengan mengampanyekan harganya yang  lebih murah dari bensin, juga keselamatan bagi penggunannya.  (Bersambung)

Perbedaan sifat premium, elpiji (Vi-Gas) dan BBG (CNG)
No.
Karakteristik
Premium
LPG (Vi-Gas)
CNG (BBG)
1.
Komposisi
C8H8
C3H8
CH4
2.
Densitas    (kg/ m3)
752
1,5
0,6
3.
Berat molekul(kg/mol)
114,8
44,09
17.51
4.
Nilai kalori (kj/kmol)
45.950
46.360
47.476
5.
AFR stoikiometri
14,57
15,6
16,15
6.
Temperatur penyalaan minimal (OC)
360
460
521,4
7.
Kecepatan nyala (m/detik)
20-40
0,82
0,66
8.
Nilai oktan
88
110
130
Sumber: Autogas

Editor : Zulkifli BJ