Kompas.com - 29/11/2021, 06:42 WIB
Lokasi tes psikologi di Satpas SIM Daan Mogot, Jakarta Barat pada Kamis (21/6/2018). RIMA WAHYUNINGRUMLokasi tes psikologi di Satpas SIM Daan Mogot, Jakarta Barat pada Kamis (21/6/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Para pemohon Surat Izin Mengemudi (SIM) baik yang akan memperpanjang masa berlaku, maupun membuat baru diwajibkan untuk mengikuti tes kesehatan rohani atau tes psikologi.

Tujuan tes tersebut dimaksud untuk menilai beberapa aspek dalam meminimalisir risiko saat berkendara. Mulai dari kemampuan konsentrasi, kecermatan, pengendalian diri, kemampuan penyesuaian diri, stabilitas emosi, serta ketahanan kerja.

Jangan sampai seperti kejadian yang viral baru-baru ini, seorang pengemudi pria mengendarai Mercedez-Benz E300 melawan arah di Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta (Jakarta Outer Ring Road/JORR) hingga menabrak dua mobil karena melawan arah.

Baca juga: Kampas Rem Mobil Matik Lebih Cepat Habis, Ini Penyebabnya

Hal ini bisa terjadi lantaran pria berusia lanjut itu mengalami penyakit demensia, bahkan ia diketahui tidak mengantongi SIM dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).

Menanggapi hal ini, pakar keselamatan berkendara yang juga pendiri Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) menjelaskan, memang tes kesehatan sudah seharusnya dilakukan. Tapi paling penting, saat hendak mengajukan permohonan SIM, seharusnya dimulai dari kesehatan terlebih dulu.

“Selama ini saya kira tidak ada pengetesan kesehatan yang betul-betul dilakukan saat bikin SIM. Jangankan kesehatan, tes narkoba saja tidak, padahal ini dasar,” ucap Jusri saat dihubungi Kompas.com beberapa waktu lalu.

Sebuah mobil Mercedes-Benz E300 dengan nomor kendaraan B1125 KAD melawan arah di jalan Tol Lingkar Luar Jakarta (Jakarta Outer Ring Road/JORR), pada Sabtu (27/11/2021) pukul 17.00 WIB. Dokumentasi Ditlantas Polda Metro Jaya Sebuah mobil Mercedes-Benz E300 dengan nomor kendaraan B1125 KAD melawan arah di jalan Tol Lingkar Luar Jakarta (Jakarta Outer Ring Road/JORR), pada Sabtu (27/11/2021) pukul 17.00 WIB.

Menurut Jusri, pengetesan keselamatan wajib dilakukan guna mengetahui apakah masyarakat pemohon SIM memiliki riwayat penyakit yang sifatnya krusial.

Ambil contoh seperti penyakit jantung dan epilepsi. Kedua penyakit tersebut tentu wajib diketahui karena memiliki dampak yang cukup besar.

Bila sedang mengendarai mobil atau sepeda motor dan penyakit kambuh, akibatnya akan sangat fatal. Bukan hanya berdampak pada pengendara yang mengalami penyakit tersebut, tapi juga bagi pengguna jalan lain.

Saat serangan jantung misalnya, otomatis konsentrasi akan langsung hilang, pengendara pun tak bisa mengontrol kemudi kendaraannya dan berpotensi membahayakan jiwa pengguna jalan lain. Begitu juga saat epilepsi kumat.

Peserta uji Surat Izin Mengemudi (SIM) sedang melakukan uji praktik di Satpas SIM, Daan Mogot, Jakarta Barat, Rabu (24/11/2021).Kompas.com/MITA AMALIA HAPSARI Peserta uji Surat Izin Mengemudi (SIM) sedang melakukan uji praktik di Satpas SIM, Daan Mogot, Jakarta Barat, Rabu (24/11/2021).

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.