Jalanan Sepi, Masih Kerap Digunakan untuk Ugal-ugalan

Kompas.com - 18/08/2021, 09:02 WIB
Aksi balap liar terjadi di Jalan Tentara Pelajar tepatnya sebelum Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Tentara Pelajar, Grogol Utara, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan pada Jumat (11/6/2021) sekitar pukul 01.30 WIB. Dok. IstimewaAksi balap liar terjadi di Jalan Tentara Pelajar tepatnya sebelum Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Tentara Pelajar, Grogol Utara, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan pada Jumat (11/6/2021) sekitar pukul 01.30 WIB.

JAKARTA, KOMPAS.com – Kondisi pandemi Covid-19 yang masih melanda Indonesia membuat Pemerintah melakukan pembatasan kegiatan masyarakat. Efeknya, beberapa ruas jalan menjadi sepi, terutama saat malam hari.

Namun, adanya pembatasan ini tidak membuat beberapa orang melakukan aksi ugal-ugalan dengan motor. Tidak jarang aksi seperti balap liar, atau pengendara yang melakukan atraksi wheelie, makin sering ditemui di jalan raya.

Tentu saja kegiatan tadi dilarang oleh peraturan dan bisa membahayakan pengguna jalan lain. Tapi mengapa bala liar atau melakukan atraksi ini malah makin marak saat ini?

Baca juga: Susunan Pebalap MotoGP 2022, Dua Tim Belum Ada Kepastian

Aksi wheelie yang dilakukan di jalan raya@jakartawheeliemaniac Aksi wheelie yang dilakukan di jalan raya

Head of Safety Riding Promotion Wahana Agus Sani mengatakan, ada beberapa faktor yang memengaruhi orang untuk tidak mematuhi aturan dan terkesan asal-asalan di jalan, pertama adalah cara belajarnya saat mengendarai motor.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Orang tersebut belajar motor secara autodidak, sehingga hanya paham cara mengoperasikannya saja, tapi kurang memahami aturan yang berlaku saat berlalu lintas,” kata Agus kepada Kompas.com, Selasa (17/8/2021).

Agus melanjutkan, faktor kedua yang membuat orang tidak menaati aturan adalah usia. Rata-rata kecelakaan motor yang terjadi di jalan raya, melibatkan pengendara dengan usia muda, hal ini disebabkan mereka masih belum bisa mengontrol emosi dengan baik.

Baca juga: PPKM Diperpanjang, Ganjil Genap Jakarta Berlanjut sampai 23 Agustus

“Ketiga, faktor pergaulan, ketika mereka dekat dengan orang yang ugal-ugalan, maka kemungkinan akan berpengaruh pada cara berkendaranya,” ucap Agus.

Melihat dari ketiga faktor di atas, peran orang tua dalam mengedukasi anaknya soal berkendara sangat penting. Jangan sampai orang tua melepaskan anak dengan kendaraan dan mengajarkan yang tidak baik, sehingga sulit untuk mengubah kebiasaannya.

“Orang tua harus mampu memberikan edukasi yang baik kepada anak-anaknya sebelum mulai mengijinkan berkendara di jalan raya. Jika tidak melibatkan orang tua, akan sulit mengubah kebiasaan yang tidak aman yang sering dilakukan pengendara pemula,” ucapnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.