Atasi Kemacetan, Jangan Andalkan Ganjil Genap

Kompas.com - 04/06/2021, 14:41 WIB
Lalu lintas kendaraan di Tol Dalam Kota Jakarta tampak padat pada jam pulang kerja di hari ketiga pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tahap dua, Rabu (16/9/2020). Pembatasan kendaraan bermotor melalui skema ganjil genap di berbagai ruas Ibu Kota resmi dicabut selama PSBB tahap dua. KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMOLalu lintas kendaraan di Tol Dalam Kota Jakarta tampak padat pada jam pulang kerja di hari ketiga pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tahap dua, Rabu (16/9/2020). Pembatasan kendaraan bermotor melalui skema ganjil genap di berbagai ruas Ibu Kota resmi dicabut selama PSBB tahap dua.
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Volume lalu lintas di Jakarta yang mulai padat dibandingkan saat masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB), disebut-sebut terjadi karena kebijakan ganjil genap yang belum berlaku lagi.

Berlakunya ganjil genap dinilai juga bisa membatasi mobilitas masyarakat yang ingin bepergian di Ibu Kota, sebagai upaya mengurangi penyebaran Covid-19.

Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia, Muhammad Halley Yudhistira, mengatakan, kebijakan ganjil-genap berpotensi menurunkan kemacetan, namun dalam jangka panjang perlu kebijakan yang lebih komprehensif.

Baca juga: Cara Pengemudi Mengetahui bila Ada Copet di Busnya

Foto aerial suasana lalu lalang kendaraan di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Senin (14/9/2020). Pada hari pertama penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) jilid II atau PSBB pengetatan di DKI Jakarta, arus lalu lintas kendaraan di sekitar Bundaran HI terpantau lancar.AFP/ADEK BERRY Foto aerial suasana lalu lalang kendaraan di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Senin (14/9/2020). Pada hari pertama penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) jilid II atau PSBB pengetatan di DKI Jakarta, arus lalu lintas kendaraan di sekitar Bundaran HI terpantau lancar.

"Jangan sampai kita over-expectation terhadap ganjil-genap,” ujar Yudhis, dalam webinar yang diselenggaran Dewan Transportasi Kota Jakarta (2/6/2021).

“Karena ada beberapa kebijakan juga yang membuat orang menjadi over-expectation sehingga menjadikan obat yang cespleng (manjur, Red)," kata dia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Yudhis mengatakan, berdasarkan studi yang dilakukannya ditemukan bahwa gage memang menurunkan volume lalu lintas namun angkanya tidak besar, sekitar 3-4 persen dan cenderung lebih besar saat akhir pekan.

Baca juga: Ini Alasan Kenapa Sepeda Motor Pakai 2 Kabel Gas

Bus transjakarta melintas di Jalan M.H Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (6/2/2020). Jumlah pengguna transjakarta telah menembus 1 juta penumpang per hari. Jumlah penumpang sebanyak 1.006.579 orang tercatat pada Selasa (4/2/2020).KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Bus transjakarta melintas di Jalan M.H Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (6/2/2020). Jumlah pengguna transjakarta telah menembus 1 juta penumpang per hari. Jumlah penumpang sebanyak 1.006.579 orang tercatat pada Selasa (4/2/2020).

"Saya tekankan di sini adalah bahwa ketika ada gage kita juga perlu pertimbangkan, bahwa ketika ada penurunan yang cukup sedikit terhadap pengguna TransJakarta atau malah enggak ada," ucap Yudhis.

Dia menduga penyebabnya warga masih banyak yang mengakali aturan supaya tetap bisa melintas pakai kendaraan pribadi di wilayah perluasan ganjil-genap.

Misalnya dengan punya mobil berpelat ganjil dan genap, memanfaatkan kelonggaran jalan, dan melintasi jalur-jalur alternatif sehingga hanya memindahkan kemacetan saja.

Baca juga: Toyota Segarkan Tampilan Alphard dan Vellfire, Segini Harganya

Foto ilustrasi penerapan Electronic Road Pricing (ERP) di Jalan Lim Teck Kim Singapura.Josephus Primus Foto ilustrasi penerapan Electronic Road Pricing (ERP) di Jalan Lim Teck Kim Singapura.

Yudhistira turut membandingkan kota lain seperti Singapura misalnya sudah menerapkan Electronic Road Pricing (ERP) menurunkan volume sebesar 15 persen. Kemudian di London dengan congestion charging juga turun 15 persen.

"Pertanyaannya kok kira-kira kita tidak turunnya (volume lalu lintas) sebesar itu? Hipotesis kami karena memang secara size penduduk Jakarta 10 juta di sensus terakhir, ini bahkan di tahun 2010, dan konteks Jakarta tidak bisa dilepaskan dari bodetabek size-nya kurang lebih 27 sampai 28 juta," tuturnya.

Menurut Yudhis, Jakarta jangan mengandalkan dengan kebijakan ganjil-genap. Transportasi umum perlu didorong sebagai alternatif transportasi dari penggunaan kendaraan pribadi.

Kemudian beragam alternatif seperti congestion charging, perlu didorong, serta implementasinya perlu dipercepat.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X