Tarif Tol Naik, Pengusaha Bus Minta Masuk Golongan Khusus

Kompas.com - 19/01/2021, 14:01 WIB
Bus AKAP instagram/official_mediabus_indonesiaBus AKAP

JAKARTA, KOMPAS.comPenyesuaian tarif di berbagai ruas tol di Pulau Jawa baru saja berlaku sejak Minggu (17/1/2021). Penyesuaian tarif ini memang sudah ada regulasinya dan dilakukan berdasarkan pengaruh laju inflasi.

Salah satu sektor yang terdampak adanya penyesuaian tarif tol ini adalah para pengusaha bus. Mereka tentunya selalu menggunakan jalan tol untuk mengantarkan penumpang ke kota tujuannya.

Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan mengatakan, penyesuaian tarif tol ini memang tidak bisa dihindari karena untuk perawatan dan investasi.

Baca juga: Mobil Dinas Jokowi Terabas Banjir di Kalimantan Selatan

Bus Scania K410IB milik PO Putera Mulya Sejahtera yang mengklaim diri sebagai bus trans Jawa pertama, melintasi Jembatan Kali Kuto di ruas tol Semarang-Batang.Dok. PO Putera Mulya Sejahtera Bus Scania K410IB milik PO Putera Mulya Sejahtera yang mengklaim diri sebagai bus trans Jawa pertama, melintasi Jembatan Kali Kuto di ruas tol Semarang-Batang.

“Perihal kenaikan tarif tol, mengingat jalan tol sendiri butuh biaya perawatan dan pengembalian investasi tidak bisa dihindari. Namun selayaknya tidak dibebankan ke angkutan umum,” ucap pria yang akrab disapa Sani ini kepada Kompas.com, Selasa (19/1/2021).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sani juga mengatakan, angkutan umum sebagai pelayan masyarakat seharusnya mendapatkan tarif khusus di tol. Jadi untuk angkutan umum dengan pelat nomor kuning, mendapatkan golongan khusus dengan tarif yang sesuai.

“Sementara kendaraan non angkutan umum tinggikan saja tarifnya. Sehingga masyarakat bisa tetap memilih jalan biasa. Artinya bagi yang membutuhkan, siap dengan konsekuensinya yaitu bayar tol,” kata Sani.

Baca juga: Kenaikan Tarif Tol, Pengusaha Truk Minta Mobil Pribadi Jadi Golongan V

Dengan meninggikan tarif tol untuk kendaraan non angkutan umum, sebenarnya bisa berdampak pada para pelaku travel non-resmi. Sani mengatakan, paling tidak biaya operasional para travel gelap naik sehingga tarifnya lebih kompetitif.

“Nantinya masyarakat lebih bijak dalam memilih moda transportasi saat mau melakukan perjalanan,” ucapnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.