Tekanan Udara Ban Perlu Dikurangi Saat Musim Hujan, Mitos atau Fakta?

Kompas.com - 13/12/2020, 15:02 WIB
Ilustrasi berkendara saat hujan. Larmoyeux & BoneIlustrasi berkendara saat hujan.

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam upaya mendapatkan keamanan dan kenyamanan berkendara di musim penghujan, tak sedikit pengendara yang kerap melakukan pengurangan tekanan udara pada ban mobil.

Alasannya, agar daya cengkeram ban bisa lebih baik saat melaju di jalanan basah akibat guyuran hujan atau genangan air. Benarkah demikian?

Dihubungi Kompas.com, On Vehicle Test (OVT) Manager PT Gajah Tunggal Tbk Zulpata Zainal memastikan bahwa anggapan tersebut hanyalah mitos semata. Sebab, tekanan udara paling bagus ialah yang sesuai rekomendasi pabrikan.

Baca juga: Odometer Digital pada Mobil Bekas Lebih Mudah Dimanipulasi, Mitos atau Fakta?

Ban mobil Mitsubishi XpanderKOMPAS.com/Ruly Ban mobil Mitsubishi Xpander

"Baik itu digunakan saat dalam kondisi jalanan kering atau basah, yang paling bagus tekanan udaranya sesuai dengan rekomendasi," kata dia belum lama ini.

Lagipula, lanjut Zulpata, aat tekanan udara dikurangi maka ban tidak memiliki contact patch atau area kontak dengan aspal yang maksimal. Kondisi ini membuat daya cengkeram ban juga menjadi berkurang atau tidak sebagus ketika tekanan udaranya sesuai.

“Saat tekanan udara dikurangi maka dinding ban menjadi lebih lembek akan berakibat daya pengereman jadi kurang baik di jalan basah maupun kering,” katanya.

Hal serupa diungkapkan oleh Chief Technology Officer Goodyear Chris Helsel yang menyebut kalau kondisi ban dengan tekanan udara tak sesuai bisa berpengaruh terhadap stabilitas kendaraan.

"Kenyataannya, justru saat tekanan udara ban di bawah anjuran terjadi struktur berbentuk W. Di mana, bagian tengah tapak ban tidak menyentuh permukaan jalan," katanya.

Baca juga: Jokowi Ajak Elon Musk Investasi Kendaraan Listrik di Indonesia

Ban mobil kelebihan dan kekurangan tekanan udaraGoodyear Ban mobil kelebihan dan kekurangan tekanan udara

Sebaliknya, lanjut dia, ketika ban diberi tekanan angin lebih tinggi dari anjuran, maka telapak ban membentuk struktur U dimana hanya bagian tengah ban yang menyentuh jalan.

Keduanya tidak memberikan daya cengkram ban maksimum yang dibutuhkan saat mobil melintasi genangan air.

"Masalah-masalah itu seperti kurangnya traksi, tapak ban menjadi lebih cepat aus, bahkan yang paling fatal ialah kerusakan pada ban," tambah dia.

“Tekanan udara tersebut merupakan hasil studi yang lama dari pabrikan kendaraan dengan kerjasama pabrikan ban. Jadi besar tekanan angin ban standar sudah yang paling optimum untuk pemakaian di jalan kering dan basah,” tutur Zulpata lagi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.