Kendaraan Pakai BBM Oktan Tinggi Bisa Lebih Irit, Mitos atau Fakta?

Kompas.com - 16/11/2020, 09:12 WIB
Seorang petugas sedang mengisi bahan bakar jenis Pertamax di SPBU  34-16102 di Jalan Raya Pajajaran, Bogor Utara, Kota Bogor, Rabu (10/10/2018). KOMPAS.com/RAMDHAN TRIYADI BEMPAHSeorang petugas sedang mengisi bahan bakar jenis Pertamax di SPBU 34-16102 di Jalan Raya Pajajaran, Bogor Utara, Kota Bogor, Rabu (10/10/2018).
Penulis Ari Purnomo
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemilihan jenis bahan bakar minyak (BBM) untuk kendaraan sebaiknya disesuaikan dengan rekomendasi pabrikan.

Sebab, setiap pabrikan sudah memperhitungkan jenis bahan bakar yang sesuai dengan kompresi rasio kendaraan.

Sementara, setiap jenis bensin yang dijual di pasaran memiliki nilai oktan yang berbeda yang bisa saja tidak sesuai dengan kompresi rasio.

Hanya saja, tidak sedikit pemilik kendaraan yang sengaja mengganti jenis bensin dengan Research Octane Number ( RON) yang lebih tinggi.

Baca juga: Blokir STNK Segera Berlaku, Pelajari Regulasinya

Alasannya, selain dipercaya bisa membuat performa mesin menjadi lebih baik, juga bisa membuat konsumsi bahan bakar lebih irit.

Petugas mengisi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi ke kendaraan konsumen di Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU) di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Senin (8/4/2013).KOMPAS/PRIYOMBODO Petugas mengisi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi ke kendaraan konsumen di Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU) di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Senin (8/4/2013).

Benarkah, anggapan bahwa ketika menggunakan BBM dengan oktan lebih tinggi akan lebih irit?

Bambang Supriyadi, Executive Coordinator Service Division PT Astra Daihatsu Motor ( ADM), mengatakan, irit atau tidak ketika kendaraan menggunakan bensin dengan oktan tinggi tergantung pada rasio kompresinya.

“Ini tergantung dari rasio kompresi mesin, kalau rasio kompresinya tinggi menggunakan BBM oktan tinggi bisa menghemat penggunaan bahan bakar,” katanya kepada Kompas.com, Minggu (15/11/2020).

Baca juga: Blokir STNK yang Mati 2 Tahun Segera Diberlakukan

Akan tetapi, Bambang menambahkan, jika kendaraan tersebut rasio kompresinya rendah dan menggunakan bensin dengan RON tinggi tetap saja tidak bisa maksimal.

Petugas mengisi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis premium di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 34-10206, Jakarta, Selasa (26/3/2013).KOMPAS/PRIYOMBODO Petugas mengisi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis premium di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 34-10206, Jakarta, Selasa (26/3/2013).

“Tidak jauh berbeda (tingkat konsumsi BBM), dengan rasio kompresi rendah maka power yang dihasilkan akan terbatas tidak dapat memaksimalkan potensi bahan bakar yang digunakan,” ucapnya.

Dengan begitu, maka penggunaan bahan bakar dengan oktan tinggi tidak serta merta berdampak pada tingkat konsumsinya.

Melainkan juga harus melihat kesesuaian kompresi rasio kendaraannya. Jika memang memenuhi untuk mengonsumsi BBM oktan tinggi maka bisa saja lebih irit.

Baca juga: Blokir STNK yang Mati 2 Tahun Akan Berlaku di Seluruh Indonesia

Menurut Bambang, ada beberapa faktor lain yang membuat konsumsi bahan bakar bisa menjadi lebih irit, salah satunya adalah kondisi lalu lintas.

“Efisiensi penggunaan bahan bakar dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah kondisi lalu lintas. Apakah lancar atau macet,” ujarnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X