Tabrakan Beruntun Sebabkan Bus Terbakar Ini Kata IPOMI

Kompas.com - 29/12/2019, 14:02 WIB
Situasi paska kejadian kecelakaan beruntun di tol kalikangkung, Sabtu (28/12/2019) malam. KOMPAS.com/istimewaSituasi paska kejadian kecelakaan beruntun di tol kalikangkung, Sabtu (28/12/2019) malam.
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Kecelakaan beruntun melibatkan dua bus dan satu mobil Kijang Innova terjadi di Gerbang Tol (GT) Kalikangkung Km 424 Jalan Tol Batang-Semarang, pada Sabtu (28/12/2019) sekitar pukul 20.10 WIB.

Akibat kecelakaan itu, dua bus terbakar, yakni Bus Kramatjat dan Bus Putra Pelita Jaya. Sementara, mobil Innova berwarna putih mengalami rusak di bagian depan dan menghamtam guard rail tol.

Direktur Direktur Utama Jasamarga Semarang Batang Arie Irianto mengatakan, kecelakaan beruntun yang terjadi di GT Kalikangkung dipicu Bus Kramat Jati B 7450 TGA yang mengalami rem blong.

Baca juga: Kecelakaan Bus Sriwijaya di Pagar Alam, Uji Kir Jadi Sorotan

Bus tersebut kemudian hilang kendali dan menabrak bagian belakang bus PJT yang ada di depannya dan sedang melakukan transaksi (tapping) di akses masuk Gardu No. 13 GT Kalikangkung.

ilustrasi/Puluhan bus terbakar di terminal Pondok Cabe, Tanggerang Selatan, Jumat (27/9/2019)KOMPAS.COM/WALDA MARISON ilustrasi/Puluhan bus terbakar di terminal Pondok Cabe, Tanggerang Selatan, Jumat (27/9/2019)

Kecelakaan bus karena dicurigai rem blong bukan sekali. Beberapa peristiwa serupa pernah terjadi sehingga menyebabkan pemikiran bahwa kendaraan komersial seperti bus dan truk mudah mengalami rem blong.

Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan, mengatakan, pengertian rem blong sebetulnya kurang tepat tapi yang benar ialah penurunan kinerja rem yang bermasalah.

"Kinerja rem menurun itu biasaya terjadi karena jalan terjal dan atau penggunaan rem yang berlebihan. Ini yang banyak terjadi karena berlebihan pemakaian," katanya kepada Kompas.com, Minggu (29/12/2019).

Baca juga: Tragedi Bus Sriwijaya, Indonesia Butuh Badan Keselamatan Transportasi

Kurnia menjelaskan, contoh kasus di kecelakaan beruntun di Tol Batang-Semarang itu misalnya, bisa diminimalisir jika pengemudi sadar dengan kendaraan yang dibawa, mengerti medan dan tidak ngebut.

Pengemudi harus tahu kapasitas kendaraannya, medan jalan yang dilalui, jaga kecepatan dengan gigi ideal dan tidak lari terlalu kencang dan jika mengontrol kecepatan tidak hanya pakai rem tapi juga transmisi.

"Ini yang banyak terjadi itu speeding (ngebut) dan hanya mengandalkan rem untuk memberhentikan kendaraan. Padahal rem itu gunannya untuk memberhentikan, sedangan menurunkan kecepatan tidak cuma rem tapi juga dari transmisi," katanya.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X